"Urine berubah merah-oranye setelah minum obat TB? Jangan langsung mengira ginjal rusak. Kenali efek rifampisin dan tanda bahaya OAT yang perlu diwaspa..."
Urine Berubah Merah Setelah Minum Obat TB, Apakah Ginjal Rusak?
Beberapa hari setelah mulai minum obat tuberkulosis (TB), seorang pasien mungkin terkejut ketika melihat warna urinenya berubah menjadi merah-oranye. Pikiran yang muncul bisa langsung mengarah pada hal yang mengkhawatirkan: apakah itu darah? Apakah ginjal mulai rusak? Apakah obat TB terlalu keras sehingga harus segera dihentikan?
Kekhawatiran tersebut dapat dipahami. Perubahan warna urine memang dapat menjadi tanda suatu masalah kesehatan. Namun, pada pasien yang sedang menggunakan rifampisin, warna merah-oranye pada urine justru merupakan efek obat yang sudah dikenal dan dapat diperkirakan. Artinya, perubahan yang muncul setelah minum obat tidak selalu berarti obat tersebut membahayakan tubuh.
Di sisi lain, obat antituberkulosis (OAT) memang dapat menyebabkan adverse drug reaction atau reaksi obat yang tidak diinginkan, dan sebagian di antaranya dapat serius. Karena itu, edukasi kepada pasien seharusnya bukan sekadar mengatakan, “Tidak apa-apa, lanjutkan obat,” tetapi membantu pasien membedakan mana perubahan yang dapat diperkirakan, mana keluhan yang perlu dipantau, dan mana tanda bahaya yang harus segera mendapatkan evaluasi tenaga kesehatan.
Mengapa Rifampisin Membuat Urine Berubah Merah-Oranye?
Rifampisin merupakan salah satu obat penting dalam pengobatan TB. Salah satu karakteristiknya yang mudah dikenali adalah kemampuannya menyebabkan perubahan warna cairan tubuh menjadi merah, jingga, atau merah-oranye. Perubahan ini paling mudah terlihat pada urine, tetapi dapat pula terjadi pada air mata, keringat, saliva, bahkan cairan tubuh lainnya.
Rifampisin dan metabolitnya memiliki warna khas sehingga selama terapi dapat menyebabkan perubahan warna beberapa cairan tubuh, termasuk urine, air mata, keringat, dan saliva, menjadi jingga hingga merah-oranye, perubahan warna tersebut dapat muncul selama penggunaan obat. Pada kebanyakan keadaan, fenomena ini tidak menunjukkan adanya perdarahan dan bukan dengan sendirinya merupakan tanda bahwa ginjal mengalami kerusakan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) bahkan secara khusus menyarankan agar tenaga kesehatan memberi tahu pasien sejak awal bahwa rifampisin dapat menyebabkan urine, keringat, atau air mata menjadi jingga. Perubahan tersebut dianggap sebagai efek minor yang tidak berbahaya.
Namun, ada satu informasi praktis yang sering terlupakan. Air mata yang berubah warna akibat rifampisin dapat menodai lensa kontak lunak, bahkan warna tersebut dapat menetap pada lensa. Karena itu, pasien pengguna lensa kontak perlu mendapat informasi mengenai kemungkinan ini.
Jadi, ketika urine berubah merah-oranye setelah mulai menggunakan rifampisin, pertanyaan pertama seharusnya bukan langsung, “Apakah ginjal saya rusak?”, tetapi: apakah perubahan tersebut sesuai dengan efek rifampisin atau disertai tanda lain yang mengarah pada masalah kesehatan?
Tidak Semua “Efek Obat” Berarti Obat Berbahaya
Dalam percakapan sehari-hari, istilah “efek samping” sering digunakan untuk setiap perubahan yang muncul setelah minum obat. Dalam farmakologi dan farmakovigilans, sebenarnya konsep tersebut lebih kompleks. WHO mendefinisikan adverse event sebagai kejadian medis yang tidak diinginkan selama penggunaan obat, tetapi kejadian tersebut belum tentu mempunyai hubungan sebab-akibat dengan obat. Sebaliknya, adverse drug reaction (ADR) merupakan respons terhadap obat yang bersifat merugikan dan tidak diinginkan pada dosis yang digunakan secara normal.
Dengan kata lain, bila pasien mengalami sakit kepala ketika sedang minum OAT, sakit kepala tersebut belum otomatis disebabkan oleh OAT. Perlu dilakukan penilaian klinis untuk menentukan kemungkinan hubungan sebab-akibat. Perubahan warna urine akibat rifampisin berbeda lagi. Efek ini dapat diperkirakan dari karakter obat dan secara umum tidak berbahaya. Karena itu, secara sederhana pasien dapat diajak memahami tiga kelompok:
1. Perubahan yang sudah diperkirakan dan umumnya tidak berbahaya, misalnya urine merah-oranye akibat rifampisin.
2. Keluhan atau reaksi obat yang perlu dipantau dan dikonsultasikan bila menetap atau memburuk.
3. Tanda bahaya yang memerlukan evaluasi medis segera.
Kemampuan membedakan ketiganya merupakan bagian penting dari literasi obat. Tanpa pemahaman tersebut, pasien dapat melakukan dua kesalahan berlawanan: terlalu panik terhadap efek yang sebenarnya tidak berbahaya, atau justru mengabaikan efek samping serius.
Keluhan Ringan Selama Pengobatan TB: Apa yang Perlu Dilakukan?
Sebagian pasien dapat mengalami keluhan gastrointestinal seperti mual, rasa tidak nyaman pada lambung, atau penurunan nafsu makan selama menggunakan OAT. Keluhan ringan semacam ini tidak otomatis berarti terjadi kerusakan organ atau bahwa terapi harus dihentikan. CDC menyebut gangguan gastrointestinal, ruam, dan demam sebagai beberapa reaksi yang dapat dijumpai selama terapi TB. Keluhan ringan kadang dapat dikelola dengan penyesuaian waktu pemberian obat atau intervensi lain berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.
Namun, kata “ringan” tidak boleh digunakan secara sembarangan. Mual ringan yang berlangsung singkat tentu berbeda dari mual dan muntah terus-menerus yang disertai kehilangan nafsu makan, nyeri perut, urine berwarna gelap seperti teh atau cola, atau kulit dan mata yang menguning. Karena itulah pasien sebaiknya tidak hanya diberi daftar efek samping, tetapi juga diajarkan memperhatikan intensitas, lama keluhan, gejala penyerta, dan perubahan dibandingkan kondisi biasanya.
Ada pula efek tertentu yang dapat diprediksi dari obat tanpa harus menimbulkan gejala penyakit. Misalnya, pyrazinamid dapat meningkatkan kadar asam urat. Peningkatan asam urat tanpa gejala dapat terjadi selama terapi, sementara nyeri sendi yang nyata memerlukan evaluasi lebih lanjut. Prinsipnya bukan menghafal semua efek samping OAT, tetapi mengetahui kapan suatu keluhan berubah dari sesuatu yang dapat dipantau menjadi sesuatu yang membutuhkan penilaian klinis.
OAT Memang Dapat Menimbulkan Efek Samping Serius
Walaupun perubahan warna urine akibat rifampisin umumnya tidak berbahaya, kita juga tidak boleh memberi kesan seolah-olah seluruh efek OAT ringan. Beberapa adverse drug reaction perlu mendapat perhatian khusus.
Hepatotoksisitas: Saat Hati Perlu Diwaspadai
Di antara OAT lini pertama, isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid mempunyai potensi menyebabkan cedera hati. Pyrazinamide, khususnya, dikenal sebagai salah satu OAT yang dapat menyebabkan peningkatan enzim hati hingga cedera hati akut yang nyata secara klinis. Masalahnya, gejala awal gangguan hati dapat terlihat tidak spesifik: kehilangan nafsu makan, lemas, mual, muntah, atau nyeri perut.
Tanda yang lebih mengkhawatirkan antara lain icterus, kulit atau bagian putih mata menjadi kuning, serta urine gelap berwarna cokelat seperti teh atau cola. Ini juga menunjukkan mengapa istilah “urine merah” harus dijelaskan dengan hati-hati.
Urine merah-oranye khas rifampisin berbeda dari urine berwarna cokelat gelap yang disertai gejala hepatotoksisitas. Pasien tidak diharapkan membedakan semua kondisi hanya berdasarkan warna urine. Bila perubahan warna disertai ikterus, mual atau muntah berat, nyeri perut, kelemahan yang nyata, atau kehilangan nafsu makan yang tidak biasa, diperlukan evaluasi segera.
Ethambutol dan Gangguan Penglihatan
Efek samping penting lainnya berasal dari etambutol. Obat ini dapat menyebabkan toksisitas pada saraf optik. Pasien dapat mengeluhkan penglihatan kabur, penurunan ketajaman penglihatan, atau perubahan kemampuan membedakan warna. Efek tersebut tidak boleh dianggap sebagai keluhan biasa karena deteksi dini sangat penting.
Karena itu, pasien yang menggunakan ethambutol perlu mengetahui bahwa perubahan penglihatan bukan sesuatu yang sebaiknya ditunggu hingga kontrol berikutnya tanpa dilaporkan. CDC mengategorikan blurred vision atau perubahan penglihatan selama penggunaan ethambutol sebagai reaksi serius yang perlu segera dievaluasi.
Isoniazid dan Neuropati Perifer
Isoniazid dapat berhubungan dengan neuropati perifer, yang dapat dirasakan sebagai kesemutan, rasa terbakar, baal, atau nyeri pada tangan dan kaki. Risiko ini tidak sama pada setiap pasien. Pyridoxine atau vitamin B6 dapat diberikan bersama isoniazid pada pasien dengan risiko lebih tinggi mengalami neuropati. Kelompok tersebut antara lain mencakup pasien hamil, pasien dengan HIV, diabetes, malnutrisi, penggunaan alkohol kronis atau berlebihan, gangguan ginjal kronis, atau usia lanjut, sesuai penilaian klinis.
Poin pentingnya bukan bahwa setiap orang yang menerima isoniazid harus melakukan swamedikasi vitamin B6. Penggunaan pyridoxine sebaiknya mengikuti regimen dan evaluasi tenaga kesehatan.
Reaksi Alergi dan Efek Serius Lainnya
OAT juga dapat menimbulkan reaksi hipersensitivitas. Ruam kulit dapat bersifat ringan, tetapi ruam yang luas atau disertai demam, pembengkakan, gangguan mukosa, kesulitan bernapas, atau gejala sistemik memerlukan perhatian segera. Rifampisin juga memiliki beberapa adverse reaction serius yang lebih jarang, termasuk gangguan hematologis. Karena itu, mudah memar atau perdarahan yang tidak biasa juga termasuk gejala yang perlu dilaporkan.
Kesimpulannya, pesan “urine merah akibat rifampisin itu normal” tidak boleh diterjemahkan menjadi “OAT tidak mempunyai efek samping serius”. Keduanya adalah dua informasi yang sama-sama benar.
Kapan Pasien Harus Segera Menghubungi Tenaga Kesehatan?
Pasien yang sedang menggunakan OAT perlu segera menghubungi fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada reaksi obat serius. Beberapa contoh penting adalah:
· kulit atau mata menjadi kuning;
· urine berubah sangat gelap seperti teh atau cola, terutama bersama gejala lain;
· kehilangan nafsu makan yang tidak biasa, mual atau muntah berat dan menetap;
· nyeri perut persisten;
· penglihatan kabur atau perubahan kemampuan melihat warna;
· kesemutan, baal, rasa terbakar, atau nyeri pada tangan dan kaki yang menetap;
· ruam yang berat atau disertai gejala sistemik;
· demam atau kelemahan yang persisten;
· mudah memar atau perdarahan yang tidak biasa.
Daftar ini bukan untuk menakut-nakuti pasien. Justru informasi tersebut diperlukan agar pasien mengetahui apa yang harus dilakukan ketika mengalami sesuatu yang tidak biasa. Di sinilah peran apoteker dan tenaga kesehatan menjadi sangat penting. Counseling sebelum pengobatan dapat mencegah dua masalah sekaligus: pasien tidak panik terhadap perubahan yang memang dapat diperkirakan, tetapi juga tidak mengabaikan tanda bahaya.
Jangan Menghentikan OAT Sendiri karena Takut Efek Samping
Ada satu pesan yang perlu dirumuskan secara hati-hati. Pasien memang tidak seharusnya menghentikan OAT sendiri hanya karena urine menjadi merah-oranye atau karena muncul keluhan ringan yang belum dievaluasi. Namun, pada gejala yang mengarah pada adverse reaction serius, pedoman dapat mengharuskan obat dihentikan sementara dan pasien segera dievaluasi.
CDC, misalnya, menganjurkan pasien yang mengalami tanda reaksi serius seperti ikterus, urine cokelat, gangguan penglihatan, ruam, atau neuropati persisten untuk segera menghubungi tenaga kesehatan; penghentian obat dapat diinstruksikan sambil dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Jadi, pesan yang paling tepat bukan sekadar: “Apa pun yang terjadi, jangan pernah berhenti minum OAT.
Pesan yang lebih aman adalah: jangan mengubah atau menghentikan terapi atas keputusan sendiri; bila muncul tanda bahaya, segera hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan instruksi dan evaluasi. Penilaian tersebut diperlukan untuk menentukan apakah keluhan benar-benar disebabkan OAT, obat mana yang paling mungkin menjadi penyebab, seberapa berat reaksinya, apakah diperlukan pemeriksaan laboratorium, serta bagaimana regimen TB selanjutnya dikelola.
Urine Merah-Oranye Tidak Selalu Berarti Ginjal Rusak
Perubahan warna urine setelah minum obat TB merupakan contoh yang sangat baik untuk memahami prinsip keamanan obat. Rifampisin dapat menyebabkan urine, air mata, keringat, dan cairan tubuh lain berubah merah-oranye. Pada keadaan tersebut, perubahan warna merupakan efek yang dapat diperkirakan dan bukan dengan sendirinya tanda perdarahan atau kerusakan ginjal.
Namun, pengobatan TB memang dapat menyebabkan adverse drug reaction yang perlu dikenali. Ikterus dan gejala gangguan hati, perubahan penglihatan akibat ethambutol, neuropati perifer terkait isoniazid, serta reaksi alergi berat merupakan beberapa contoh yang tidak boleh diabaikan.
Karena itu, literasi obat bukan berarti meyakini bahwa semua keluhan setelah minum obat berbahaya. Sebaliknya, literasi obat juga bukan berarti menganggap seluruh efek samping dapat diabaikan. Literasi obat berarti mengetahui perbedaannya: mana perubahan yang dapat diperkirakan, mana keluhan yang perlu dipantau, dan mana tanda bahaya yang membutuhkan evaluasi segera.
Kesimpulan
Urine yang berubah menjadi jingga atau merah-oranye setelah minum obat TB yang mengandung rifampisin umumnya merupakan efek obat yang sudah dapat diperkirakan dan bukan dengan sendirinya tanda perdarahan atau kerusakan ginjal. Namun, hal ini tidak berarti semua keluhan selama pengobatan TB boleh diabaikan. Obat antituberkulosis dapat menimbulkan reaksi obat yang perlu dikenali, mulai dari keluhan ringan hingga efek serius seperti hepatotoksisitas, gangguan penglihatan terkait etambutol, neuropati perifer terkait isoniazid, serta reaksi hipersensitivitas.
Karena itu, pasien perlu memahami perbedaan antara perubahan warna urine merah-oranye yang khas akibat rifampisin dengan tanda bahaya seperti urine sangat gelap disertai ikterus, mual atau muntah berat, kehilangan nafsu makan yang nyata, gangguan penglihatan, kesemutan atau baal yang menetap, ruam berat, maupun perdarahan yang tidak biasa. Pasien sebaiknya tidak mengubah atau menghentikan OAT atas keputusan sendiri hanya karena perubahan warna urine atau keluhan ringan, tetapi bila muncul tanda yang mengarah pada reaksi serius, segera hubungi tenaga kesehatan dan jangan menunggu jadwal kontrol berikutnya. Edukasi yang tepat membantu pasien tidak panik terhadap efek obat yang sebenarnya dapat diperkirakan sekaligus tidak terlambat mengenali reaksi obat yang memerlukan penanganan.
Baca juga artikel:
1. Batuk Sudah Hilang, Mengapa Obat TB Tetap Harus Dihabiskan?
2. TB Resistan Obat Bukan Berarti Tubuh Anda Kebal terhadap Obat
Daftar Pustaka
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit, Kementerian Kesehatan RI; 2025.
2. World Health Organization. WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 4: Treatment and Care. Geneva: World Health Organization; 2025.
3. Centers for Disease Control and Prevention. Adverse Events During TB Treatment. Atlanta: CDC; updated April 17, 2025.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Treatment for Drug-Susceptible Tuberculosis Disease. Atlanta: CDC; 2025.
5. World Health Organization. A Practical Handbook on the Pharmacovigilance of Medicines Used in the Treatment of Tuberculosis. Geneva: World Health Organization; 2012.
6. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. Pyrazinamide. In: LiverTox: Clinical and Research Information on Drug-Induced Liver Injury. Bethesda (MD): National Institutes of Health; updated December 20, 2020.