Edukasi Farmasi & Kesehatan

TB Resistan Obat Bukan Berarti Tubuh Anda Kebal terhadap Obat

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
September 03, 2026 5 min read
TB Resistan Obat Bukan Berarti Tubuh Anda Kebal terhadap Obat
Photo by Unsplash

"Benarkah terlalu sering minum antibiotik membuat tubuh kebal? Pada TB resistan obat, yang menjadi resistan adalah bakterinya. Pahami bagaimana resista..."

TB Resistan Obat Bukan Berarti Tubuh Anda Kebal terhadap Obat

      Saya terlalu sering minum antibiotik, jadi tubuh saya sekarang sudah kebal. Kalimat seperti ini cukup sering terdengar ketika membicarakan antibiotik. Tidak sedikit pula pasien yang ketika didiagnosis tuberkulosis kebal (resistan) obat atau TB resistan obat (TB-RO) kemudian berpikir bahwa tubuh mereka sudah terlalu terbiasa dengan antibiotik sehingga obat tidak lagi bekerja.

      Padahal, secara ilmiah bukan tubuh manusia yang menjadi kebal terhadap antibiotik. Pada resistansi antibiotik, yang mengalami perubahan adalah mikroorganisme penyebab infeksi. Dalam TB, mikroorganisme tersebut adalah Mycobacterium tuberculosis. Bakteri dapat mempunyai perubahan genetik tertentu yang membuat satu atau beberapa obat antituberkulosis tidak lagi mampu bekerja sebagaimana mestinya.

      Perbedaan ini bukan sekadar persoalan istilah. Bila kita mengatakan “tubuh kebal antibiotik”, kita dapat salah memahami bagaimana resistansi terjadi, mengapa pengobatan TB membutuhkan kombinasi obat, mengapa pemeriksaan resistansi diperlukan, bahkan dapat keliru menyalahkan pasien ketika ditemukan TB resistan obat.

Antibiotik Bekerja pada Bakteri, Bukan Membuat Tubuh Menjadi Kebal

      Untuk memahami resistansi, bayangkan ada tiga pemain: pasien, bakteri, dan obat. Obat antituberkulosis bekerja terhadap bakteri melalui target tertentu. Isoniazid, misalnya, mengganggu pembentukan komponen penting dinding sel M. tuberculosis. Rifampisin menghambat enzim RNA polymerase bakteri sehingga proses transkripsi terganggu. Namun, populasi bakteri tidak selalu secara genetik identik dalam segala aspek.

      Secara alami dapat muncul mutasi pada materi genetik bakteri. Sebagian besar mutasi mungkin tidak memberikan keuntungan apa pun, tetapi secara kebetulan ada mutasi tertentu yang dapat mengurangi kerentanan bakteri terhadap suatu obat.

      Ketika antibiotik diberikan, bakteri yang sensitif terhadap obat akan lebih mudah dibunuh. Sebaliknya, bakteri yang membawa mutasi yang memberikan resistansi dapat mempunyai keuntungan untuk bertahan. Inilah yang disebut tekanan seleksi atau selection pressure.

      Antibiotik pada dasarnya bukan “mengajari” bakteri bagaimana menjadi resistan. Obat lebih tepat dipahami sebagai memberikan tekanan seleksi: bakteri sensitif tersingkir, sementara bakteri dengan karakteristik yang memungkinkan bertahan mempunyai peluang lebih besar untuk berkembang biak. Jadi yang berubah atau terseleksi adalah populasi bakterinya, bukan tubuh pasien.

Dari Mana Bakteri TB Resistan Berasal?

      Pada M. tuberculosis, resistansi terhadap sebagian besar obat antituberculosis (OAT) terutama berkembang melalui mutasi kromosomal yang memengaruhi target obat, aktivasi obat, atau mekanisme biologis lain yang menentukan efektivitas obat.

      Sebagai contoh, resistansi terhadap rifampisin sering berkaitan dengan mutasi pada gen rpoB, yang mengkode subunit beta RNA polimerase—target kerja rifampisin. Resistansi terhadap isoniazid antara lain berkaitan dengan mutasi pada katG atau daerah regulator inhA. Pengetahuan mengenai hubungan antara mutasi dan resistansi inilah yang sekarang dimanfaatkan dalam pemeriksaan molekuler. 

      Prosesnya secara sederhana dapat digambarkan: mutasi yang dapat memengaruhi kerentanan obat dapat muncul secara spontan dalam populasi bakteri→ terdapat bakteri dengan kerentanan berbeda → obat memberikan tekanan seleksi → bakteri sensitif lebih banyak terbunuh → bakteri resistan bertahan dan dapat berkembang biak. Namun, jangan membayangkan bahwa setiap kali seseorang meminum antibiotik, mutasi resistan pasti terbentuk. Mutasi terjadi secara spontan dalam populasi bakteri. Masalah menjadi penting ketika kondisi terapi memberikan kesempatan bagi subpopulasi resistan tersebut untuk terseleksi dan berkembang.

      Konsep ini juga berbeda dari persistence yang sering dibahas dalam konteks lamanya terapi TB. Bakteri persister dapat bertahan sementara terhadap paparan obat karena keadaan fisiologis atau metaboliknya tanpa harus memiliki mutasi resistansi yang diwariskan. Persistence merupakan toleransi fenotipik yang tidak harus disebabkan oleh perubahan genetik stabil yang menimbulkan resistansi. Karena itu, persistence berbeda dari resistansi genetik yang dapat diwariskan kepada keturunan bakteri.      

      Sebaliknya, pada resistansi genetik, perubahan pada genom bakteri dapat diwariskan kepada keturunannya. Dengan demikian, persister tidak sama dengan bakteri resistan, meskipun keduanya sama-sama dapat membuat pengobatan infeksi menjadi lebih kompleks.

Mengapa TB Harus Diobati dengan Kombinasi Obat?

      Salah satu alasan mendasar TB tidak diobati dengan satu antibiotik saja adalah risiko resistansi. Dalam populasi M. tuberculosis yang sangat besar, secara spontan dapat terdapat sejumlah kecil bakteri yang mempunyai mutasi yang menyebabkan resistansi terhadap satu obat tertentu.

      Misalnya, bila pasien hanya mendapat obat A, sebagian besar bakteri yang sensitif terhadap A akan terbunuh. Tetapi bila sejak awal terdapat bakteri yang resistan terhadap A, bakteri tersebut memperoleh keuntungan selektif. Ketika pesaingnya berkurang, populasi resistan dapat berkembang.

      Bagaimana bila obat A diberikan bersama obat B yang bekerja melalui target berbeda? Situasi berbahaya juga dapat terjadi ketika pasien secara nominal menerima beberapa obat, tetapi karena bakterinya sudah resistan terhadap sebagian obat tersebut, secara efektif hanya satu obat yang masih aktif. Kondisi semacam ini sering disebut functional monotherapy dan dapat mempermudah seleksi resistansi tambahan. Itulah salah satu prinsip farmakologis penting penggunaan kombinasi OAT yang efektif.

      Karena itu, bahaya tidak hanya datang dari “tidak minum obat”, tetapi juga dari keadaan ketika secara praktis pasien menerima functional monotherapy, misalnya hanya satu obat dalam regimen yang masih benar-benar aktif terhadap bakterinya. Prinsip inilah yang membuat pemilihan regimen berdasarkan pola kepekaan obat sangat penting pada TB resistan obat.

Apakah Putus Obat Selalu Membuat Pasien Menjadi TB Resistan?

      Di sinilah pesan mengenai resistansi sering terlalu disederhanakan. Kita sering mendengar:  Kalau lupa minum obat, TB langsung menjadi resistan. Pernyataan tersebut terlalu mutlak. Lupa satu dosis tidak otomatis membuat M. tuberculosis berubah menjadi MDR-TB. Resistansi merupakan hasil interaksi yang lebih kompleks antara populasi bakteri, obat yang aktif, konsentrasi obat, durasi paparan, mutasi, kepatuhan terhadap regimen, serta berbagai faktor klinis dan programatik.

      Namun, hal itu bukan berarti kepatuhan terapi tidak penting. Terapi yang tidak adekuat atau terputus dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan sebagian bakteri tetap hidup ketika paparan obat tidak optimal. Dalam keadaan tertentu, kondisi tersebut meningkatkan peluang terseleksinya populasi resistan, terutama bila regimen secara efektif hanya menyisakan satu atau sedikit obat aktif.

WHO menyebut beberapa faktor yang dapat mendorong munculnya resistansi, antara lain preskripsi atau regimen yang tidak tepat, penggunaan obat yang tidak sesuai, obat dengan kualitas buruk, dan penghentian pengobatan terlalu dini. 

      Jadi pesan yang lebih ilmiah adalah: ketidakpatuhan dapat meningkatkan risiko resistansi, tetapi resistansi tidak dapat dijelaskan hanya dengan menyalahkan pasien karena pernah terlambat atau lupa minum obat. Bahkan, pada sebagian orang, resistansi sudah ada sejak sebelum pengobatan dimulai.

TB Resistan Tidak Selalu “Dibuat” oleh Pasien

      Ini merupakan aspek yang sangat penting untuk mengurangi stigma. Secara konseptual, TB resistan obat dapat muncul melalui dua jalur utama. Pertama adalah acquired drug resistance. Pasien awalnya terinfeksi bakteri yang sensitif terhadap obat, tetapi selama perjalanan penyakit atau terapi terjadi seleksi populasi bakteri yang resistan.

      Kedua adalah primary atau transmitted drug resistance. Pada kondisi ini, seseorang sejak awal tertular strain M. tuberculosis yang memang sudah resistan terhadap satu atau beberapa OAT. Artinya, seseorang yang baru pertama kali didiagnosis TB dapat saja sudah mempunyai TB resistan obat meskipun sebelumnya tidak pernah mendapatkan terapi TB.

       WHO menegaskan bahwa muncul dan menyebarnya MDR/RR-TB berkaitan tidak hanya dengan masalah pengelolaan terapi tetapi juga transmisi dari orang ke orang.  Karena itu, tidak tepat apabila setiap pasien TB-RO langsung dianggap “pasti tidak patuh”. Selain tidak ilmiah, stigma seperti itu dapat merusak hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan. TB resistan obat adalah persoalan mikrobiologi sekaligus kesehatan masyarakat: bakteri resistan yang terbentuk pada satu individu dapat ditularkan kepada individu lain.

Apa Sebenarnya MDR-TB dan RR-TB?

      Istilah resistansi TB juga perlu digunakan dengan tepat. RR-TB atau rifampicin-resistant TB berarti TB yang disebabkan M. tuberculosis yang resistan terhadap rifampisin, dengan atau tanpa resistansi terhadap obat TB lainnya. Sementara itu, MDR-TB atau multidrug-resistant TB adalah TB akibat M. tuberculosis yang resistan setidaknya terhadap rifampisin dan isoniazid, dua OAT lini pertama yang sangat penting. 

      Selain MDR-TB dan RR-TB, terdapat kategori resistansi lain yang ditentukan berdasarkan pola resistansi terhadap obat tambahan. Karena itu, TB resistan obat bukan satu kondisi yang seragam. Jadi “TB resistan obat” bukan satu jenis penyakit yang seragam. Pola resistansi menentukan obat mana yang masih mungkin efektif dan regimen mana yang paling tepat.

Bagaimana Kita Mengetahui Bakteri TB Resistan?

     Kita tidak dapat mengetahui resistansi hanya dari gejala. Pasien dengan TB sensitif obat dan TB resistan obat dapat mempunyai keluhan yang sangat mirip: batuk, demam, penurunan berat badan, atau keringat malam. Karena itu diperlukan pemeriksaan mikrobiologi.

      WHO merekomendasikan penggunaan pemeriksaan diagnostik cepat, termasuk tes molekuler, untuk mendeteksi TB sekaligus berbagai bentuk resistansi obat. Pemeriksaan molekuler dapat mencari perubahan genetik tertentu pada M. tuberculosis yang berkaitan dengan resistansi. 

      Salah satu resistansi yang sangat penting dideteksi sejak awal adalah resistansi terhadap rifampisin. Perkembangan teknologi bahkan memungkinkan pemeriksaan molekuler mendeteksi resistansi terhadap isoniazid, fluorokuinolon, serta sejumlah OAT lain. WHO juga telah merekomendasikan targeted next-generation sequencing sebagai salah satu teknologi untuk deteksi resistansi terhadap berbagai obat TB. 

      Selain pemeriksaan genotipik tersebut, terdapat phenotypic drug susceptibility testing (DST). Pada pemeriksaan ini, pertumbuhan M. tuberculosis diamati ketika terpapar obat tertentu untuk mengetahui apakah bakteri masih sensitif atau sudah resistan. Kedua pendekatan mempunyai peran. Hasil pemeriksaan resistansi kemudian membantu tenaga kesehatan memilih regimen yang mempunyai jumlah obat aktif yang memadai.

TB Resistan Obat Bukan Berarti Tidak Bisa Disembuhkan

      Miskonsepsi lain yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa begitu ditemukan MDR-TB atau RR-TB, pasien tidak lagi mempunyai harapan sembuh. Itu juga tidak tepat. TB resistan obat masih dapat diobati dan disembuhkan, walaupun terapi umumnya lebih kompleks dibandingkan TB sensitif obat.

      Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, pengobatan TB-RO mengalami perubahan besar. Dulu, pengobatan MDR-TB dapat berlangsung 18–24 bulan dan sering melibatkan obat injeksi dengan toksisitas yang cukup besar. Kini WHO lebih mengutamakan regimen oral yang lebih singkat pada pasien yang memenuhi kriteria.

      Pedoman WHO 2025 memasukkan berbagai regimen untuk MDR/RR-TB. WHO merekomendasikan regimen oral enam bulan BPaLM—bedaquiline, pretomanid, linezolid, dan moxifloxacin—untuk pasien MDR/RR-TB tertentu yang memenuhi kriteria. Pada kondisi tertentu, termasuk berdasarkan hasil resistansi fluorokuinolon, regimen dapat disesuaikan sesuai rekomendasi yang berlaku. WHO juga pada 2025 menambahkan regimen enam bulan BDLLfxC sebagai pilihan untuk MDR/RR-TB, termasuk pada situasi tertentu dengan resistansi fluorokuinolon. 

      WHO juga masih merekomendasikan beberapa regimen sembilan bulan maupun regimen individual yang lebih panjang pada situasi tertentu. Artinya, istilah “resistan” tidak berarti “tidak ada obat yang bekerja.” Resistan terhadap suatu obat berarti obat tersebut tidak lagi mempunyai aktivitas yang dapat diandalkan terhadap strain bakteri tertentu. Masih mungkin tersedia obat lain yang efektif, dan kemajuan diagnostik membantu memilih regimen tersebut secara lebih tepat.

Yang Kebal Adalah Bakterinya, Bukan Tubuh Kita

      Ketika seseorang mengatakan, “Tubuh saya sudah kebal antibiotik,” sebenarnya ada satu kesalahan konsep yang tampak sederhana tetapi mempunyai konsekuensi besar. Pada resistansi antibiotik, yang berubah adalah bakteri.

      Pada TB, mutasi tertentu dalam Mycobacterium tuberculosis dapat membuat bakteri kurang peka atau resistan terhadap OAT. Paparan obat kemudian dapat memberikan tekanan seleksi sehingga populasi yang resistan memperoleh peluang untuk bertahan dan berkembang.

Terapi yang tidak adekuat memang dapat berkontribusi terhadap munculnya resistansi, tetapi TB resistan obat tidak selalu merupakan akibat pasien tidak patuh. Seseorang juga dapat langsung tertular bakteri yang sudah resistan.

      Karena itu, TB resistan obat harus dipahami sebagai persoalan mikrobiologi, farmakologi, penggunaan obat, transmisi, diagnosis, dan sistem pelayanan kesehatan—bukan sekadar persoalan “pasien tidak patuh”. Dan yang juga penting: resistan bukan berarti tidak dapat disembuhkan. Dengan pemeriksaan resistansi yang tepat dan regimen yang sesuai, TB resistan obat tetap dapat diobati.

Kesimpulan

      TB resistan obat bukan berarti tubuh pasien sudah kebal terhadap antibiotik. Pada resistansi obat, yang berubah dan menjadi resistan adalah Mycobacterium tuberculosis, antara lain melalui perubahan genetik yang menyebabkan satu atau beberapa obat antituberkulosis tidak lagi efektif terhadap bakteri tersebut. Paparan obat dapat memberikan tekanan seleksi sehingga bakteri yang sensitif lebih mudah dieliminasi, sedangkan subpopulasi yang telah memiliki karakteristik resistansi mempunyai peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang. 

      Pengobatan yang tidak adekuat memang dapat meningkatkan risiko terseleksinya resistansi, tetapi TB resistan obat tidak selalu disebabkan oleh ketidakpatuhan pasien karena seseorang juga dapat sejak awal tertular strain M. tuberculosis yang sudah resistan. Karena itu, TB-RO tidak seharusnya dipandang sebagai akibat “tubuh kebal obat” ataupun semata-mata kesalahan pasien. Pemeriksaan resistansi yang tepat diperlukan untuk mengetahui obat yang masih efektif dan menentukan regimen yang sesuai. Yang juga penting, resistan bukan berarti tidak dapat diobati: perkembangan diagnosis molekuler dan regimen oral yang lebih singkat telah memperluas pilihan terapi bagi pasien TB resistan obat yang memenuhi kriteria.

Baca juga artikel: 

1.     Batuk Sudah Hilang, Mengapa Obat TB Tetap Harus Dihabiskan?

2.     Urine Berubah Merah Setelah Minum Obat TB, Apakah Ginjal Rusak?

Daftar Pustaka

1.     World Health Organization. WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 4: Treatment and Care. Geneva: World Health Organization; 2025.

2.     World Health Organization. WHO Consolidated Operational Handbook on Tuberculosis: Module 4: Treatment and Care. Geneva: World Health Organization; 2025.

3.     Walker TM, Miotto P, Köser CU, et al. The 2021 WHO catalogue of Mycobacterium tuberculosis complex mutations associated with drug resistance: a genotypic analysis. Lancet Microbe. 2022;3(4):e265-e273. doi:10.1016/S2666-5247(21)00301-3.

4.     Gygli SM, Borrell S, Trauner A, Gagneux S. Antimicrobial resistance in Mycobacterium tuberculosis: mechanistic and evolutionary perspectives. FEMS Microbiol Rev. 2017;41(3):354-373. doi:10.1093/femsre/fux011.

5.     World Health Organization. WHO Consolidated Guidelines on Tuberculosis: Module 3: Diagnosis. Geneva: World Health Organization; 2025.

6.     World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2025. Geneva: World Health Organization; 2025.