KESEHATAN & FARMASI

Ganoderma (Lingzhi/Reishi) Disebut “Jamur Obat” di Asia: Sebenarnya Obat, Herbal, atau Suplemen?

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
September 08, 2026 5 min read
Ganoderma (Lingzhi/Reishi) Disebut “Jamur Obat” di Asia: Sebenarnya Obat, Herbal, atau Suplemen?
Photo by Unsplash

"Excerpt: Ganoderma atau Lingzhi/Reishi telah digunakan selama ribuan tahun dan dikenal sebagai “jamur obat”. Namun, apakah Ganoderma sebenarnya obat,..."

Ganoderma (Lingzhi/Reishi) Disebut “Jamur Obat” di Asia: Sebenarnya Obat, Herbal, atau Suplemen?

      Lingzhi sudah digunakan di China selama ribuan tahun. Kalau tidak berkhasiat, mengapa masih digunakan sampai sekarang? Pertanyaan seperti ini cukup masuk akal. Ganoderma memang bukan pendatang baru dalam dunia pengobatan tradisional. Jamur ini telah lama dikenal dalam budaya Asia Timur dan mempunyai tempat penting dalam Traditional Chinese Medicine (TCM). Di China Ganoderma Sudah Digunakan Sejak Ribuan Tahun

       Kini berbagai produknya juga beredar sebagai serbuk, kapsul, tablet, teh maupun ekstrak. Nama yang digunakan pun beragam. Istilah Lingzhi populer di China, sedangkan di Jepang jamur ini dikenal sebagai Reishi atau Mannentake. Dalam literatur ilmiah dan produk komersial, nama Ganoderma lucidum sangat sering digunakan (1,2).

      Karena sejarah penggunaannya yang panjang, Ganoderma sering disebut medicinal mushroom atau “jamur obat”. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah disebut jamur obat berarti Ganoderma mempunyai kedudukan dan tingkat pembuktian yang sama dengan obat modern? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Kita perlu membedakan sedikitnya empat hal: sejarah penggunaan, aktivitas farmakologis, bukti efektivitas klinis, dan status regulatori.

Ganoderma, Lingzhi, dan Reishi: Sebenarnya Apa?

      Ganoderma sebenarnya adalah nama genus, bukan nama satu jenis jamur saja. Salah satu nama spesies yang paling sering muncul dalam literatur adalah Ganoderma lucidum. Namun, perkembangan taksonomi molekuler menunjukkan bahwa persoalannya lebih rumit.

      Jamur Lingzhi yang banyak dibudidayakan dan digunakan di Asia Timur tidak selalu identik dengan G. lucidum sensu stricto yang awalnya dideskripsikan dari Eropa. Nomenklatur yang digunakan dalam farmakope atau perdagangan tidak selalu sepenuhnya mengikuti perkembangan taksonomi molekuler terbaru. Nama Ganoderma lingzhi juga digunakan untuk sebagian Lingzhi Asia. Perbedaan taksonomi ini bukan sekadar persoalan nama karena spesies yang berbeda dapat mempunyai profil kimia yang berbeda (2).

      Produk Ganoderma juga dapat berasal dari bagian yang berbeda. Ada produk yang menggunakan tubuh buah (fruiting body atau sporocarp), miselium (mycelium), spora, minyak spora, maupun ekstrak dari bagian-bagian tersebut. BPOM sendiri dalam basis data bahan Obat Bahan Alam mencantumkan beberapa bentuk G. lucidum, termasuk ekstrak, miselium, spora, minyak spora dan sporocarp (3).

      Karena itu, dua produk yang sama-sama bertuliskan “Ganoderma” pada kemasannya belum tentu merupakan bahan yang secara farmasetis sama. Spesies, bagian jamur, kondisi budidaya, proses ekstraksi hingga standardisasi dapat memengaruhi komposisi produk.

Mengapa Ganoderma Disebut Medicinal Mushroom?

      Ketertarikan ilmiah terhadap Ganoderma bukan tanpa alasan. Jamur ini mengandung berbagai senyawa bioaktif. Dua kelompok yang paling banyak diteliti adalah senyawa polisakarida, termasuk β-glucan, serta triterpenoid seperti ganoderic acids. Selain itu ditemukan pula sterol, protein, nukleosida dan berbagai komponen lainnya (1).

      Berbagai penelitian eksperimental melaporkan aktivitas yang berkaitan dengan imunomodulasi, inflamasi, stres oksidatif, metabolisme dan kanker. Literatur mengenai Ganoderma bahkan sangat luas (1).  Namun di sinilah kehati-hatian diperlukan.

Aktivitas farmakologis tidak sama dengan efektivitas klinis.

      Misalnya, suatu ekstrak Ganoderma dapat menunjukkan aktivitas terhadap sel kanker di laboratorium. Temuan tersebut penting untuk penelitian, tetapi belum membuktikan bahwa mengonsumsi produk Ganoderma dapat menyembuhkan kanker pada manusia.

      Perjalanannya masih panjang: senyawa harus mencapai konsentrasi yang sesuai di tubuh manusia, menunjukkan manfaat klinis pada dosis yang aman, kemudian dibuktikan melalui penelitian manusia yang dirancang dengan baik. Inilah perbedaan antara sesuatu yang “mempunyai aktivitas biologis” dan sesuatu yang “terbukti efektif sebagai terapi.”

China: Lingzhi Memang Bagian dari Traditional Chinese Medicine

      Di China, kedudukan Lingzhi jauh lebih kuat daripada sekadar jamur yang dipasarkan sebagai suplemen. Penggunaan Lingzhi telah tercatat selama sekitar dua milenium dan berkaitan erat dengan tradisi pengobatan China (1). Lebih penting lagi dari sudut regulatori, Lingzhi tercantum dalam Pharmacopoeia of the People's Republic of China.

      Chinese Pharmacopoeia edisi 2025 mendefinisikan Lingzhi sebagai tubuh buah kering dari Ganoderma lucidum atau Ganoderma sinense dan menetapkan berbagai parameter identitas serta pengujian bahan tersebut (4). Ini merupakan kedudukan yang penting. Namun ada miskonsepsi yang perlu diluruskan: “Tercantum dalam farmakope” tidak identik dengan “semua manfaatnya telah terbukti melalui randomized controlled trial (RCT).”

      Farmakope antara lain memberikan standar mengenai identitas, mutu, pengujian dan spesifikasi suatu bahan atau sediaan. Sementara itu, pertanyaan apakah suatu intervensi efektif untuk mengobati penyakit tertentu memerlukan pembuktian klinis tersendiri.

      Karena itu, fakta bahwa Lingzhi merupakan bahan penting dalam TCM dan tercantum dalam Chinese Pharmacopoeia adalah fakta regulatori dan historis yang kuat. Tetapi fakta tersebut tidak dapat digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa Ganoderma terbukti mengobati kanker, diabetes, hipertensi atau penyakit lainnya.

Bagaimana Taiwan, Jepang, dan Malaysia Memposisikan Ganoderma?

      Di Taiwan, Lingzhi juga sangat dikenal. Namun sistem regulasinya memberikan contoh yang baik tentang pentingnya membedakan health food dengan obat. Health Food Control Act Taiwan mendefinisikan health food sebagai pangan dengan efek pemeliharaan kesehatan yang didukung secara ilmiah. Akan tetapi, regulasi tersebut secara eksplisit membedakannya dari tindakan medis untuk mengobati atau memperbaiki penyakit (5). Taiwan FDA bahkan mengingatkan masyarakat bahwa health food bukan obat dan tidak dapat digunakan untuk mengobati penyakit.

      Di Jepang, Reishi atau Mannentake juga dikenal luas sebagai produk kesehatan. Dokumen Kementerian Kesehatan Jepang, misalnya, memasukkan Reishi dalam pembahasan mengenai health foods dan terapi komplementer. Dengan demikian, popularitas Reishi di Jepang jangan langsung diterjemahkan menjadi pernyataan bahwa Reishi merupakan obat modern yang disetujui untuk mengobati berbagai penyakit (5).

      Malaysia memberikan contoh lain. National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA) memiliki kategori natural products, termasuk traditional products. Produk yang mengandung Ganoderma lucidum memang terdapat dalam sistem registrasinya. Sebagai contoh, Shell-Broken Ganoderma Lucidum Spore Powder Capsule terdaftar dalam kategori Natural Product–Traditional (General)(6).

      Jadi, satu bahan yang sama dapat mempunyai positioning regulatori berbeda antarnegara. Istilah obat, traditional medicine, natural product, health food, dan suplemen tidak boleh dipertukarkan begitu saja.

Lalu Bagaimana Posisi Ganoderma di Indonesia?

      Menariknya, Ganoderma sebenarnya bukan bahan yang asing bagi regulator Indonesia. Dalam basis data resmi BPOM, Ganoderma lucidum tercantum sebagai salah satu bahan dalam kategori registrasi Obat Bahan Alam (OBA) komposisi tertentu dalam bentuk tunggal. Klaim yang tercantum adalah: Secara tradisional digunakan untuk membantu sirkulasi darah (7).  BPOM juga mencantumkan Ganoderma lucidum beserta ekstrak, miselium, spora, minyak spora dan sporocarp dalam basis data bahan OBA (3).

      Hal ini penting karena menunjukkan bahwa Ganoderma mempunyai tempat dalam sistem Obat Bahan Alam Indonesia. Namun kita perlu berhati-hati dalam menerjemahkan kedudukan tersebut. Dalam sistem Indonesia dikenal kategori OBA seperti jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka, yang berbeda dalam karakteristik dan tingkat pembuktian yang dipersyaratkan. Karena itu, keberadaan Ganoderma lucidum sebagai bahan yang dikenal dalam sistem OBA tidak berarti setiap produk Ganoderma otomatis merupakan fitofarmaka, apalagi otomatis mempunyai bukti klinis untuk berbagai penyakit.

      Demikian pula, legalitas suatu produk herbal untuk beredar tidak berarti produsennya bebas mengklaim bahwa produk tersebut dapat menyembuhkan kanker, diabetes, hipertensi atau penyakit lainnya. Klaim harus sesuai dengan kategori, bukti, dan persetujuan regulatorinya.

      Menariknya lagi, BPOM mensyaratkan peringatan untuk produk tertentu yang mengandung G. lucidum, antara lain agar pengguna menghentikan pemakaian dan menghubungi dokter bila terjadi efek yang tidak diinginkan, berkonsultasi jika digunakan bersama obat lain, serta tidak menggunakannya pada anak, ibu hamil atau menyusui (8). Artinya, istilah “alami” juga tidak boleh langsung diterjemahkan menjadi “pasti aman”.

Sudah Digunakan Ribuan Tahun,  Apakah Merupakan Bukti Ilmiah?

      Penggunaan selama ratusan atau ribuan tahun tentu bukan informasi yang tidak bernilai. Pengalaman empiris dapat memberikan petunjuk mengenai penggunaan, tolerabilitas dan potensi manfaat suatu bahan serta menghasilkan hipotesis untuk penelitian selanjutnya.

      Namun traditional use dan clinical evidence bukan jenis bukti yang sama. Secara sederhana, perjalanan pembuktian suatu bahan dapat digambarkan sebagai: penggunaan empiris/tradisional → identifikasi senyawa dan mekanisme biologis → penelitian in vitro → penelitian hewan → penelitian pada manusia → randomized controlled trial → systematic review/meta-analysis.

      Hierarki tersebut tidak berarti setiap tahap selalu harus dilewati secara linear atau bahwa semua systematic review otomatis berkualitas tinggi. Kualitas desain penelitian tetap harus dinilai. Namun prinsip dasarnya penting: semakin spesifik klaimnya—misalnya “mengobati diabetes” atau “meningkatkan survival pasien kanker”—semakin kuat pula bukti klinis yang diperlukan.

      Ganoderma adalah contoh yang sangat menarik. Penelitian mengenai kandungan kimia dan aktivitas biologisnya sangat banyak, tetapi review kritis menunjukkan bahwa sebagian besar bukti farmakologinya masih bersifat preklinik dan data klinis berkualitas tinggi masih dibutuhkan untuk banyak klaim kesehatan. Jadi, sejarah penggunaan yang panjang merupakan alasan yang baik untuk meneliti Ganoderma, tetapi bukan pengganti uji klinis untuk membuktikan suatu indikasi.

Jadi, Ganoderma Itu Obat, Herbal, atau Suplemen?

      Tidak ada satu jawaban yang berlaku universal. Di China, Lingzhi mempunyai kedudukan kuat sebagai bahan dalam sistem Traditional Chinese Medicine dan tercantum dalam Chinese Pharmacopoeia. Di Taiwan dan Jepang kita juga menemukan Ganoderma/Reishi dalam konteks produk kesehatan. Malaysia memiliki produk Ganoderma yang terdaftar sebagai natural/traditional product.   Sementara di Indonesia, Ganoderma lucidum dikenal dalam sistem Obat Bahan Alam BPOM.

      Karena itu, positioning Ganoderma harus selalu dibaca berdasarkan negara, produk, bahan yang digunakan, formulasi, kategori registrasi, dan klaim yang disetujui. Yang lebih penting bagi konsumen sebenarnya bukan sekadar apakah Ganoderma disebut obat,  herbal, “jamur obat”, atau suplemen.

      Pertanyaan berikutnya justru lebih menarik: dari sekian banyak manfaat Ganoderma yang diklaim untuk imunitas, diabetes, kolesterol, penyakit hati hingga kanker, mana yang benar-benar telah dibuktikan pada manusia? Pertanyaan inilah yang akan dibahas pada artikel berikutnya.

Kesimpulan

      Ganoderma atau Lingzhi/Reishi memiliki sejarah panjang dalam pengobatan tradisional Asia dan mengandung berbagai senyawa bioaktif yang menarik untuk diteliti, tetapi sebutan “jamur obat” tidak berarti bahwa Ganoderma memiliki kedudukan atau tingkat pembuktian yang sama dengan obat modern. Status Ganoderma juga berbeda antarnegara: Lingzhi tercantum dalam Chinese Pharmacopoeia dan menjadi bagian dari Traditional Chinese Medicine, sementara di negara lain Ganoderma dapat ditempatkan sebagai health food, natural/traditional product, atau produk kesehatan. 

       Ganoderma lucidum di Indonesia dikenal dalam sistem Obat Bahan Alam BPOM, tetapi hal tersebut tidak berarti setiap produk Ganoderma otomatis merupakan fitofarmaka atau terbukti secara klinis dapat mengobati berbagai penyakit. Spesies, bagian jamur, proses ekstraksi, standardisasi, kategori registrasi, dan klaim yang disetujui juga perlu diperhatikan ketika menilai suatu produk. Karena itu, sejarah penggunaan selama ribuan tahun dan adanya aktivitas biologis merupakan alasan penting untuk terus meneliti Ganoderma, tetapi keduanya tidak dapat menggantikan bukti klinis berkualitas tinggi untuk membuktikan efektivitasnya pada penyakit tertentu.

Daftar Pustaka

1.     Wachtel-Galor S, Yuen J, Buswell JA, Benzie IFF. Ganoderma lucidum (Lingzhi or Reishi): a medicinal mushroom. In: Benzie IFF, Wachtel-Galor S, editors. Herbal Medicine: Biomolecular and Clinical Aspects. 2nd ed. Boca Raton (FL): CRC Press/Taylor & Francis; 2011. Chapter 9.

2.     Hennicke F, Cheikh-Ali Z, Liebisch T, Maciá-Vicente JG, Bode HB, Piepenbring M. Distinguishing commercially grown Ganoderma lucidum from Ganoderma lingzhi from Europe and East Asia on the basis of morphology, molecular phylogeny, and triterpenic acid profiles. Phytochemistry. 2016;127:29-37.

3.     Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. PUSAKA OBA: Database Bahan Obat Bahan Alam. Jakarta: BPOM RI [cited 2026 Sep 5].

4.     Chinese Pharmacopoeia Commission. Pharmacopoeia of the People's Republic of China. 2025 ed. Beijing: China Medical Science Press; 2025. Monograph: Lingzhi (Ganoderma).

5.     Taiwan Food and Drug Administration. Health Food Governing Act. Taipei: Ministry of Health and Welfare.

6.     National Pharmaceutical Regulatory Agency, Ministry of Health Malaysia. List of products approved by the Drug Control Authority: Shell-Broken Ganoderma Lucidum Spore Powder Capsule 250 mg, MAL09100012TC. Putrajaya: NPRA; 2024.

7.     Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 25 Tahun 2023 tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat Bahan Alam. Jakarta: BPOM RI; 2023.

8.     Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penandaan Obat Bahan Alam, Obat Kuasi, dan Suplemen Kesehatan. Jakarta: BPOM RI; 2024.