Persiapan Uji Kompetensi

Latihan Soal Ukom Calon Apoteker: Farmakoterapi pada Gangguan Ginjal dan Hepar

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
September 07, 2026 5 min read
Latihan Soal Ukom Calon Apoteker: Farmakoterapi pada Gangguan Ginjal dan Hepar
Photo by Unsplash

"Seberapa siap Anda menghadapi UKOM Apoteker? Coba 25 latihan soal CBT farmakoterapi gangguan ginjal dan hepar, mulai dari AKI, CKD, penyesuaian dosis..."

Latihan Soal Ukom Calon Apoteker: Farmakoterapi pada Gangguan Ginjal dan Hepar 

Soal 1 — Recall

Seorang pasien menjalani pemeriksaan fungsi ginjal. Nilai eGFR pasien 52 mL/menit/1,73 m² dan kondisi tersebut telah menetap selama lebih dari 3 bulan. Berdasarkan klasifikasi KDIGO, kategori GFR pasien adalah:

A. G1
 B. G2
 C. G3a
 D. G3b
 E. G4

Jawaban: C.  Pembahasan: Kategori G3a adalah eGFR 45–59 mL/menit/1,73 meGFR <60 mL/menit/1,73 m² yang menetap selama ≥3 bulan memenuhi kriteria CKD, terlepas dari ada atau tidaknya penanda kerusakan ginjal lain. Materi jawaban menggunakan klasifikasi G1 ≥90, G2 60–89, G3a 45–59, G3b 30–44, G4 15–29, dan G5 <15 (mL/menit/1,73 m²) 

Soal 2 — Recall

Seorang pasien mengalami peningkatan kreatinin serum dari 1,0 mg/dL menjadi 1,4 mg/dL dalam waktu 48 jam setelah mengalami dehidrasi berat. Berdasarkan kriteria KDIGO, kondisi tersebut memenuhi kriteria:

A. Acute kidney injury
 B. Chronic kidney disease
 C. End-stage kidney disease
 D. Nephrotic syndrome
 E. Chronic glomerulonephritis

Jawaban: A.  Pembahasan: Salah satu kriteria AKI adalah peningkatan kreatinin serum ≥0,3 mg/dL dalam 48 jam. Kriteria lainnya adalah peningkatan ≥1,5 kali baseline dalam 7 hari atau penurunan urine output sesuai kriteria KDIGO. 

Soal 3 — Recall

Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, eliminasi obat yang terutama diekskresikan melalui ginjal dapat mengalami penurunan. Perubahan farmakokinetik yang paling mungkin terjadi adalah:

A. Klirens meningkat dan waktu paruh menurun
 B. Klirens menurun dan waktu paruh meningkat
 C. Klirens meningkat dan bioavailabilitas menurun
 D. Volume distribusi selalu menurun secara bermakna
 E. Absorpsi gastrointestinal selalu meningkat secara bermakna

Jawaban: B.  Pembahasan: Penurunan eliminasi renal dapat menurunkan klirens dan memperpanjang waktu paruh obat sehingga meningkatkan risiko akumulasi dan toksisitas. Hal ini terutama penting pada obat dengan eliminasi renal dan indeks terapi sempit. 

Soal 4 — Reasoning

Seorang laki-laki 70 tahun dengan gangguan fungsi ginjal mendapat gentamisin untuk infeksi bakteri berat. Apoteker akan mengevaluasi regimen terapi untuk mengurangi risiko nefrotoksisitas. Tindakan yang paling tepat adalah:

A. Mempertahankan regimen karena gentamisin terutama dimetabolisme oleh hati
 B. Mengurangi dosis semua antibiotik tanpa mempertimbangkan fungsi ginjal pasien
 C. Mengevaluasi regimen berdasarkan fungsi ginjal dan melakukan TDM bila tersedia
 D. Menghentikan gentamisin setiap kali kreatinin serum berada di atas nilai normal
 E. Mengganti gentamisin dengan antibiotik oral tanpa mempertimbangkan jenis infeksi

Jawaban: C.  Pembahasan: Aminoglikosida dieliminasi terutama melalui ginjal dan memiliki indeks terapi sempit serta risiko nefro- dan ototoksisitas. Regimen perlu diindividualisasi berdasarkan fungsi ginjal dan strategi dosing, dengan melakukan TDM sesuai indikasi dan bila fasilitas tersedia. 

Soal 5 — Reasoning

Seorang pasien lansia dengan muntah dan diare berat mengalami dehidrasi. Pasien rutin menggunakan ibuprofen untuk nyeri sendi. Kreatinin serum meningkat dibandingkan nilai sebelumnya. Mekanisme ibuprofen yang dapat memperburuk fungsi ginjal pasien adalah:

A. Vasodilatasi arteriol aferen sehingga tekanan intraglomerular meningkat
 B. Vasokonstriksi arteriol aferen akibat berkurangnya sintesis prostaglandin
 C. Vasokonstriksi arteriol eferen akibat meningkatnya aktivitas angiotensin II
 D. Vasodilatasi arteriol eferen akibat meningkatnya sintesis prostaglandin ginjal
 E. Dilatasi arteriol aferen akibat penghambatan sistem renin-angiotensin-aldosteron

Jawaban: B.  Pembahasan: NSAID menghambat sintesis prostaglandin yang berperan mempertahankan vasodilatasi aferen, terutama ketika perfusi ginjal terganggu. Pada pasien dehidrasi, efek ini dapat semakin menurunkan perfusi glomerulus dan memicu/memperberat AKI. 

Soal 6 — Reasoning

Seorang pasien dengan CKD menggunakan lisinopril. Dua minggu setelah peningkatan dosis, pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan kreatinin serum dan kalium. Tindakan apoteker yang paling tepat adalah:

A. Menghentikan lisinopril secara permanen setiap kali kreatinin mengalami peningkatan
 B. Mengevaluasi besarnya perubahan kreatinin, kalium, status volume, dan obat penyerta
 C. Mengganti lisinopril dengan NSAID untuk mempertahankan perfusi glomerulus pasien
 D. Menambahkan suplemen kalium untuk mengurangi efek lisinopril terhadap fungsi ginjal
 E. Mempertahankan terapi tanpa evaluasi karena ACE inhibitor tidak memengaruhi fungsi ginjal

Jawaban: B.  Pembahasan: Peningkatan kreatinin ringan dapat terjadi setelah inisiasi/peningkatan dosis ACE inhibitor. KDIGO menganjurkan monitoring kreatinin dan kalium setelah memulai atau meningkatkan dosis RAS inhibitor. Penurunan GFR ≥30% atau peningkatan kreatinin serum >30%memerlukan evaluasi penyebab seperti hipovolemia, NSAID, diuretik, atau stenosis arteri renalis; bukan otomatis berarti ACE inhibitor harus dihentikan. 

Soal 7 — Reasoning

Seorang pasien mengalami AKI dengan edema paru dan kelebihan cairan yang bermakna. Tekanan darah pasien stabil dan dokter mempertimbangkan pemberian furosemid. Tujuan penggunaan furosemid yang paling tepat adalah:

A. Mempercepat regenerasi sel tubulus sehingga fungsi ginjal segera pulih
 B. Meningkatkan GFR sehingga perkembangan AKI dapat dihentikan secara langsung
 C. Mengatasi volume overload dengan meningkatkan ekskresi natrium dan cairan
 D. Mengurangi nefrotoksisitas obat dengan meningkatkan metabolisme obat di ginjal
 E. Mencegah kebutuhan dialisis dengan memperbaiki kerusakan parenkim ginjal

Jawaban: C.  Pembahasan: Diuretik bukan terapi untuk memperbaiki AKI itu sendiri. Furosemid dapat digunakan untuk menangani volume overload yang bermakna. KDIGO tidak merekomendasikan penggunaan diuretik untuk mencegah AKI atau sebagai terapi pemulihan fungsi ginjal. 

Catatan: ini sekaligus mengoreksi tabel terapi AKI pada materi Dalam Buku Farmakoterapi I Karya Dr. apt Priyanto M.Biomed dan Dr. apt. Numlil Khaira R, M.Si, agar mahasiswa tidak memperoleh kesan bahwa furosemid merupakan "obat untuk menyembuhkan AKI".

Soal 8 — Reasoning

Seorang laki-laki 68 tahun dengan diabetes dan CKD mengalami nyeri punggung. Pasien rutin menggunakan losartan dan diuretik. Ia berencana menggunakan ibuprofen beberapa kali sehari karena nyerinya cukup berat. Masalah terkait obat yang paling perlu diwaspadai adalah:

A. Ibuprofen dapat meningkatkan perfusi ginjal dan menyebabkan hiperfiltrasi glomerulus
 B. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan risiko AKI terutama bila pasien mengalami dehidrasi
 C. Losartan akan mencegah seluruh efek nefrotoksik ibuprofen pada pasien dengan CKD
 D. Diuretik akan meningkatkan eliminasi ibuprofen sehingga efektivitas analgesiknya menurun
 E. Ibuprofen akan meningkatkan efek renoprotektif losartan dengan menurunkan tekanan intraglomerular

Jawaban: B.  Pembahasan: Kombinasi RAS inhibitor + diuretik + NSAID dapat meningkatkan risiko AKI, terutama pada pasien dengan hipovolemia atau faktor risiko ginjal lainnya. Ini merupakan situasi penting untuk dikenali apoteker dalam medication review.

Soal 9 — Reasoning

Seorang pasien dengan CKD dan albuminuria mendapat ACE inhibitor untuk mengendalikan tekanan darah dan memperlambat progresivitas penyakit ginjal. Efek yang mendukung manfaat renoprotektif obat tersebut adalah:

A. Meningkatkan tekanan intraglomerular dan meningkatkan ekskresi protein
 B. Menurunkan tekanan intraglomerular dan mengurangi albuminuria/proteinuria
 C. Meningkatkan reabsorpsi natrium dan meningkatkan volume cairan ekstraseluler
 D. Meningkatkan vasokonstriksi eferen dan meningkatkan hiperfiltrasi glomerulus
 E. Meningkatkan sekresi aldosteron dan menurunkan konsentrasi kalium serum

Jawaban: B.  Pembahasan: RAS inhibitor mempunyai peran penting pada CKD dengan albuminuria yang sesuai indikasi. Efek hemodinamik ginjalnya menurunkan tekanan intraglomerular dan albuminuria, yang berkontribusi terhadap renoproteksi. 

Soal 10 — Reasoning

Seorang pasien CKD mengalami anemia. Dokter mempertimbangkan terapi erythropoiesis-stimulating agent (ESA). Sebelum terapi dimulai, apoteker melakukan pengkajian kondisi pasien.

Parameter yang penting dievaluasi terlebih dahulu adalah:

A. Status besi dan penyebab anemia yang dapat dikoreksi
 B. Kadar natrium dan kebutuhan pemberian diuretik loop
 C. Kadar fosfat dan kebutuhan pemberian phosphate binder
 D. Kadar glukosa dan kebutuhan pemberian insulin basal
 E. Kadar asam urat dan kebutuhan pemberian allopurinol

Jawaban: A.  Pembahasan: Sebelum memulai ESA, penyebab anemia yang dapat dikoreksi perlu dievaluasi, terutama defisiensi besi. Pemeriksaan status besi seperti ferritin dan TSAT merupakan bagian penting evaluasi anemia CKD. Materi Dalam Buku Farmakoterapi I Karya Dr. apt Priyanto M.Biomed dan Dr. apt. Numlil Khaira R, M.Si juga menempatkan terapi besi sebagai komponen penting penatalaksanaan anemia CKD. 

Soal 11 — Reasoning

Seorang pasien CKD mendapat beberapa obat yang dieliminasi melalui ginjal. Apoteker menemukan penurunan fungsi ginjal yang bermakna dan akan melakukan medication review. Prinsip penyesuaian regimen yang paling tepat adalah:

A. Semua obat harus diturunkan dosisnya sebesar persentase yang sama
 B. Semua interval pemberian obat harus diperpanjang menjadi dua kali lipat
 C. Regimen disesuaikan menurut fungsi ginjal dan karakteristik masing-masing obat
 D. Semua obat dengan eliminasi renal harus dihentikan pada pasien dengan CKD
 E. Penyesuaian hanya diperlukan apabila pasien sudah menjalani hemodialisis rutin

Jawaban: C.  Pembahasan: Tidak ada satu aturan penyesuaian dosis yang berlaku untuk seluruh obat. Dosis, interval, atau keduanya dapat dimodifikasi berdasarkan fungsi ginjal, karakteristik PK/PD, indeks terapi, indikasi, serta rekomendasi spesifik obat. 

Soal 12 — Analisis

Seorang perempuan 73 tahun dengan CKD datang karena lemas dan oliguria setelah mengalami diare selama 3 hari. Obat rutin pasien adalah lisinopril, furosemid, dan ibuprofen. Kreatinin serum meningkat tajam dibandingkan baseline. Tindakan awal apoteker yang paling tepat adalah:

A. Merekomendasikan peningkatan dosis furosemid untuk meningkatkan produksi urine pasien
 B. Mengidentifikasi hipovolemia dan obat yang dapat memperburuk fungsi ginjal untuk dievaluasi
 C. Merekomendasikan penambahan aminoglikosida untuk mencegah infeksi pada pasien CKD
 D. Mempertahankan seluruh obat karena penghentian sementara dapat memperburuk penyakit kronis
 E. Merekomendasikan peningkatan dosis lisinopril untuk mempertahankan tekanan intraglomerular

Jawaban: B.  Pembahasan: Kasus menunjukkan kemungkinan AKI pada CKD dengan volume depletion + RAS inhibitor + diuretik + NSAID. Apoteker perlu mengidentifikasi faktor reversibel, mengevaluasi obat yang memperburuk perfusi/fungsi ginjal, serta mengomunikasikannya kepada dokter penanggungjawab pasien. 

Soal 13 — Analisis

Seorang pasien CKD mendapat gabapentin untuk nyeri neuropatik. Beberapa hari setelah fungsi ginjal memburuk, pasien menjadi sangat mengantuk, bingung, dan mengalami ataksia. Tidak terdapat perubahan obat lain. Penjelasan farmakoterapeutik yang paling mungkin adalah:

A. Peningkatan metabolisme hepatik menyebabkan pembentukan metabolit gabapentin yang toksik
 B. Penurunan eliminasi renal menyebabkan akumulasi gabapentin dan meningkatkan toksisitas neurologis
 C. Penurunan absorpsi gastrointestinal menyebabkan kadar gabapentin berada di bawah rentang terapeutik
 D. Peningkatan ekskresi renal menyebabkan fluktuasi konsentrasi gabapentin dan menimbulkan sedasi
 E. Peningkatan ikatan protein menyebabkan gabapentin tidak dapat dieliminasi melalui sistem hepatobilier

Jawaban: B.  Pembahasan: Gabapentin terutama dieliminasi tidak berubah melalui ginjal. Penurunan fungsi ginjal dapat menyebabkan akumulasi dan meningkatkan risiko efek neurologis seperti somnolen, dizziness, dan ataksia. Materi dalam Farmakoterapi I,  juga memasukkan gabapentin sebagai obat yang memerlukan penyesuaian pada gangguan ginjal. 

Soal 14 — Analisis

Seorang pasien CKD dengan diabetes menggunakan metformin. Pemeriksaan terbaru menunjukkan eGFR 27 mL/menit/1,73 m² yang terkonfirmasi pada pemeriksaan ulang. Apoteker melakukan evaluasi keamanan terapi. Rekomendasi terkait metformin yang paling tepat adalah:

A. Mempertahankan dosis karena metformin tidak mengalami eliminasi melalui ginjal
 B. Meningkatkan dosis karena penurunan fungsi ginjal akan menurunkan absorpsi metformin
 C. Menghentikan metformin karena dikontraindikasikan pada eGFR <30 mL/menit/1,73 m²
 D. Mengganti metformin dengan sediaan lepas lambat tanpa mengubah dosis total hariannya
 E. Menambahkan obat penghambat ekskresi renal untuk mempertahankan konsentrasi metformin

Jawaban: C.  Pembahasan: Pada eGFR <30 mL/menit/1,73 m², metformin tidak digunakan karena meningkatnya risiko akumulasi dan asidosis laktat. Catatan penting: untuk metformin, rekomendasi modern menggunakan eGFR

Soal 15 — Analisis

Seorang laki-laki 62 tahun dengan CKD, diabetes tipe 2, hipertensi, dan albuminuria telah mendapat terapi RAS inhibitor dengan dosis yang dapat ditoleransi. eGFR 42 mL/menit/1,73 m². Dokter mempertimbangkan terapi tambahan untuk memperlambat progresivitas CKD. Kelompok obat yang mempunyai bukti renoproteksi dan paling tepat dipertimbangkan adalah:

A. SGLT2 inhibitor
 B. Diuretik osmotik
 C. Aminoglikosida
 D. NSAID selektif COX-2
 E. Dopamin dosis rendah

Jawaban: A.  Pembahasan: SGLT2 inhibitor merupakan salah satu terapi penting untuk memperlambat progresi CKD pada pasien yang memenuhi indikasi, termasuk banyak pasien CKD dengan atau tanpa diabetes. KDIGO 2024 memberikan rekomendasi penggunaan SGLT2 inhibitor pada kelompok CKD tertentu berdasarkan eGFR dan albuminuria/indikasi klinis

Soal 16 — Recall

Seorang pasien dengan sirosis menjalani evaluasi derajat keparahan penyakit hati menggunakan skor Child-Pugh. Apoteker mengevaluasi data klinis dan laboratorium pasien. Parameter yang termasuk dalam perhitungan Child-Pugh adalah:

A. ALT, AST, bilirubin, albumin, dan kreatinin serum
 B. Albumin, bilirubin, INR, asites, dan ensefalopati hepatik
 C. Bilirubin, kreatinin, natrium, asites, dan tekanan darah
 D. ALT, albumin, GGT, asites, dan ensefalopati hepatik
 E. AST, ALP, bilirubin, albumin, dan ensefalopati hepatik

Jawaban: B.  Pembahasan: Child-Pugh menggunakan lima parameter, yaitu bilirubin, albumin, PT/INR, asites, dan ensefalopati hepatik. Skor digunakan untuk menilai derajat keparahan sirosis dan dapat menjadi salah satu pertimbangan penggunaan obat. Dalam Buku Farmakoterapi I Karya Dr. apt Priyanto M.Biomed dan Dr. apt. Numlil Khaira R, M.Si, membahas parameter dan klasifikasi Child-Pugh A, B, dan C pada halaman 66–68. 

Soal 17 — Recall

Pada pasien sirosis terjadi penurunan sintesis albumin. Pasien menggunakan obat yang memiliki ikatan protein plasma sangat tinggi. Perubahan farmakokinetik yang paling mungkin terjadi adalah:

A. Fraksi obat bebas menurun sehingga efek farmakologis berkurang
 B. Fraksi obat bebas meningkat sehingga risiko toksisitas dapat meningkat
 C. Absorpsi obat menurun sehingga konsentrasi obat selalu subterapeutik
 D. Ekskresi obat meningkat sehingga waktu paruh obat menjadi lebih singkat
 E. Metabolisme obat meningkat sehingga konsentrasi plasma cepat menurun

Jawaban: B.  Pembahasan: Hipoalbuminemia dapat meningkatkan fraksi bebas obat yang sangat terikat albumin. Implikasi klinis bergantung pada karakteristik obat, distribusi, dan klirens; karena itu peningkatan fraksi bebas tidak selalu berarti dosis harus otomatis dikurangi. Fenitoin merupakan contoh penting karena interpretasi kadar total dapat menyesatkan pada hipoalbuminemia. 

Soal 18 — Recall

Seorang pasien dengan penyakit hati kronik diperiksa untuk menilai kemampuan sintesis hati. Dokter ingin mengetahui apakah fungsi sintesis protein dan faktor pembekuan telah mengalami penurunan.

Kombinasi parameter yang paling tepat adalah:

A. ALT dan AST
 B. ALP dan GGT
 C. Albumin dan PT/INR
 D. Bilirubin dan ALT
 E. GGT dan bilirubin

Jawaban: C.  Pembahasan: Albumin dan PT/INR lebih mencerminkan fungsi sintesis hati, sedangkan AST dan ALT terutama merupakan penanda cedera hepatoseluler. 

Soal 19 — Reasoning

Seorang pasien sirosis dengan asites mendapat spironolakton. Setelah beberapa hari terapi, apoteker melakukan monitoring efektivitas dan keamanan terapi. Parameter yang paling tepat dipantau adalah:

A. Berat badan, kalium serum, fungsi ginjal, dan respons asites
 B. Bilirubin, amonia, glukosa darah, dan frekuensi defekasi
 C. Hemoglobin, trombosit, kalsium serum, dan tekanan intraokular
 D. ALT, amilase, fosfat serum, dan frekuensi buang air kecil
 E. Albumin, leukosit, asam urat, dan konsentrasi hemoglobin

Jawaban: A. Pembahasan: Spironolakton merupakan komponen penting terapi asites pada sirosis. Monitoring meliputi respons klinis/berat badan, elektrolit terutama kalium, serta fungsi ginjal karena terapi diuretik yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan elektrolit, hipovolemia, dan AKI.

Soal 20 — Reasoning

Seorang pasien sirosis datang dengan perubahan perilaku, mengantuk, disorientasi, dan asteriksis. Dokter mendiagnosis ensefalopati hepatik dan meresepkan laktulosa. Tujuan terapi laktulosa yang paling tepat adalah:

A. Mengurangi absorpsi amonia di kolon dan meningkatkan eliminasi nitrogen melalui feses
 B. Meningkatkan sintesis albumin di hati dan memperbaiki tekanan onkotik plasma
 C. Menghambat sekresi aldosteron dan meningkatkan ekskresi cairan pada pasien
 D. Menurunkan tekanan portal melalui penghambatan reseptor beta adrenergik sistemik
 E. Meningkatkan metabolisme bilirubin dan mempercepat ekskresi empedu melalui usus

Jawaban: A. Pembahasan: Laktulosa merupakan terapi lini pertama untuk overt hepatic encephalopathy. Laktulosa menurunkan absorpsi amonia dan meningkatkan eliminasi nitrogen melalui saluran cerna. Setelah episode akut terkendali, dosis biasanya dititrasi untuk menghasilkan sekitar 2–3 buang air besar lunak per hari, sambil menghindari diare berlebihan dan dehidrasi.

Soal 21 — Reasoning

Seorang pasien dengan sirosis menggunakan fenitoin untuk epilepsi. Albumin serum 2,2 g/dL. Kadar fenitoin total berada dalam rentang terapi, tetapi pasien mengalami nistagmus, ataksia, dan mengantuk. Tindakan apoteker yang paling tepat adalah:

A. Menaikkan dosis karena kadar fenitoin total masih berada dalam rentang terapi
 B. Mempertahankan dosis karena hipoalbuminemia tidak memengaruhi ikatan fenitoin
 C. Mengevaluasi kadar fenitoin bebas atau melakukan interpretasi kadar yang disesuaikan
 D. Menambahkan fenitoin dosis tambahan untuk mempertahankan konsentrasi plasma total
 E. Menghentikan seluruh antiepilepsi karena gejala neurologis menunjukkan kegagalan terapi

Jawaban: C. Pembahasan: Fenitoin sangat terikat albumin. Pada hipoalbuminemia, kadar total dapat tampak terapeutik sementara konsentrasi bebas meningkat dan menimbulkan toksisitas. Bila tersedia, pengukuran kadar fenitoin bebas lebih informatif; koreksi kadar total dapat digunakan dengan keterbatasannya. Fenitoin sebagai contoh penting obat dengan perubahan protein binding pada gangguan hati. 

Soal 22 — Reasoning

Seorang pasien dengan sirosis dan asites menggunakan ibuprofen secara rutin untuk nyeri muskuloskeletal. Apoteker menilai terapi tersebut berisiko bagi pasien. Alasan utama penggunaan NSAID sebaiknya dihindari pada pasien ini adalah:

A. Meningkatkan retensi natrium dan risiko AKI serta perdarahan gastrointestinal
 B. Meningkatkan ekskresi natrium dan menyebabkan penurunan volume asites berlebihan
 C. Meningkatkan sintesis prostaglandin dan menyebabkan hiperperfusi ginjal berkepanjangan
 D. Menurunkan risiko perdarahan dengan meningkatkan agregasi trombosit secara berlebihan
 E. Menurunkan tekanan portal sehingga meningkatkan risiko hipotensi pada seluruh pasien

Jawaban: A. Pembahasan: NSAID sebaiknya dihindari pada sirosis dengan asites karena penghambatan prostaglandin dapat menurunkan perfusi ginjal, menyebabkan retensi natrium, memperburuk asites, dan meningkatkan risiko AKI. Risiko perdarahan gastrointestinal juga menjadi pertimbangan penting.

Soal 23 — Reasoning

Seorang pasien dengan sirosis mengalami episode kedua ensefalopati hepatik meskipun telah menggunakan laktulosa secara adekuat. Dokter mempertimbangkan terapi tambahan untuk mencegah kekambuhan. Obat yang paling tepat ditambahkan adalah:

A. Rifaximin
 B. Omeprazole
 C. Metoclopramide
 D. Cholestyramine
 E. Ursodeoxycholic acid

Jawaban: A. Pembahasan: Rifaximin digunakan sebagai tambahan terhadap laktulosa untuk mengurangi kekambuhan ensefalopati hepatik, khususnya setelah episode berulang. Ini merupakan contoh penting penggunaan kombinasi farmakoterapi berdasarkan tujuan klinis yang jelas.

Soal 24 — Analisis

Seorang laki-laki 59 tahun dengan sirosis dan asites datang dengan lemas, muntah, dan penurunan jumlah urine. Obat rutin adalah spironolakton, furosemid, propranolol, dan ibuprofen yang dibeli sendiri. Tekanan darah 88/58 mmHg dan kreatinin meningkat dari 1,0 menjadi 2,0 mg/dL. Masalah terkait obat yang paling penting untuk segera dievaluasi adalah:

A. Penggunaan ibuprofen dan diuretik pada kondisi hipovolemia yang dapat memperburuk AKI
 B. Penggunaan propranolol yang meningkatkan sintesis prostaglandin dan menyebabkan hipervolemia
 C. Penggunaan spironolakton yang meningkatkan perfusi ginjal dan memperburuk hipertensi portal
 D. Penggunaan furosemid yang meningkatkan volume intravaskular dan menyebabkan edema perifer
 E. Penggunaan ibuprofen yang meningkatkan ekskresi natrium sehingga menyebabkan dehidrasi berat

Jawaban: A. Pembahasan: Pasien menunjukkan hipotensi, kemungkinan volume depletion, dan AKI. NSAID mengganggu mekanisme kompensasi perfusi ginjal, sementara diuretik dapat memperburuk hipovolemia. Regimen harus segera direview bersama tim medis. Ini lebih penting daripada sekadar melihat kenaikan enzim hati.

Soal 25 — Analisis

Seorang perempuan 61 tahun dengan sirosis datang karena mengantuk dan bingung. Pasien menggunakan laktulosa secara teratur. Tiga hari terakhir ia mengalami konstipasi dan baru mengalami perdarahan saluran cerna. Pemeriksaan menunjukkan asteriksis. Tindakan farmakoterapeutik yang paling rasional adalah:

A. Menghentikan laktulosa karena perubahan kesadaran menunjukkan efek sedatif obat
 B. Menaikkan dosis diuretik untuk meningkatkan eliminasi amonia melalui ginjal pasien
 C. Mengoptimalkan laktulosa sekaligus mengidentifikasi dan menangani faktor pencetus ensefalopati
 D. Memberikan benzodiazepin untuk mengatasi agitasi dan memperbaiki pola tidur pasien
 E. Memberikan NSAID untuk mengurangi inflamasi yang menyebabkan peningkatan amonia darah

Jawaban: C. Pembahasan: Pada ensefalopati hepatik, terapi tidak cukup hanya menurunkan amonia. Faktor pencetus harus dicari dan ditangani, seperti perdarahan gastrointestinal, konstipasi, infeksi, gangguan elektrolit, dehidrasi, atau obat sedatif. Pada kasus ini terdapat dua pencetus yang jelas: konstipasi dan perdarahan gastrointestinal.

Baca juga latian soal yang lain di Web yang sama, misalnya: Latihan Soal Ukom CBT Apoteker:   Farmakoterapi Rasional dan Penggunaan Antibiotik 

Daftar Pustaka 

1.   DiPiro JT, Yee GC, Haines ST, Nolin TD, Ellingrod VL, Posey LM, editors. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. 12th ed. New York: McGraw Hill; 2023.

2.   Brunton LL, Knollmann BC, editors. Goodman & Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. 14th ed. New York: McGraw Hill; 2023.

3.   Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO). KDIGO 2024 Clinical Practice Guideline for the Evaluation and Management of Chronic Kidney Disease. Kidney Int. 2024;105(Suppl 4S):S117–S314.

4.   Kidney Disease: Improving Global Outcomes (KDIGO) Acute Kidney Injury Work Group. KDIGO Clinical Practice Guideline for Acute Kidney Injury. Kidney Int Suppl. 2012;2:1–138.

5.   Biggins SW, Angeli P, Garcia-Tsao G, et al. Diagnosis, evaluation, and management of ascites, spontaneous bacterial peritonitis and hepatorenal syndrome: 2021 practice guidance by the American Association for the Study of Liver Diseases. Hepatology. 2021;74(2):1014–1048.

6.  Vilstrup H, Amodio P, Bajaj J, et al. Hepatic encephalopathy in chronic liver disease: 2014 practice guideline by AASLD and EASL. Hepatology. 2014;60(2):715–735.