"Soal Uji kompetensi Farmakoterapi pada Gangguan Tulang dan Sendi"
Soal Prediksi UKOM Apoteker: Gangguan Tulang dan Sendi
Gout: Soal 1 — Recall knowledge
Seorang laki-laki berusia 54 tahun mengalami serangan gout berulang sebanyak 3 kali dalam satu tahun. Kadar asam urat serum 8,7 mg/dL dan fungsi ginjal normal. Dokter akan memberikan terapi penurun asam urat jangka panjang. Obat lini pertama yang paling tepat adalah:
A. Allopurinol
B. Colchicine
C. Indometasin
D. Prednison
E. Probenesid
Pembahasan: Allopurinol merupakan urate-lowering therapy (ULT) lini pertama yang direkomendasikan American College of Rheumatology (ACR), termasuk pada pasien CKD. Frekuensi serangan ≥2 kali/tahun merupakan indikasi kuat pemberian ULT.
Soal 2 — Recall knowledge
Seorang pasien gout telah mendapatkan allopurinol secara teratur. Apoteker melakukan monitoring kadar asam urat serum untuk menilai keberhasilan terapi berdasarkan strategi treat-to-target. Target kadar asam urat serum yang direkomendasikan ACR adalah:
A. <2 mg/dL
B. <3 mg/dL
C. <4 mg/dL
D. <6 mg/dL
E. <8 mg/dL
Pembahasan: Pada pasien gout yang memperoleh ULT, terapi dititrasi berdasarkan kadar serum urat dengan target <6 mg/dL (≈360 µmol/L).
Soal 3 — Reasoning: gout akut + komorbiditas
Seorang laki-laki 67 tahun datang dengan nyeri hebat, kemerahan, dan pembengkakan pada MTP-1 sejak 12 jam yang lalu. Pasien mempunyai riwayat ulkus peptikum dengan perdarahan gastrointestinal. Diagnosis dokter adalah serangan gout akut. Pilihan terapi oral yang efektif untuk pasien di atas adalah adalah:
A. Aspirin
B. Allopurinol
C. Colchicine
D. Probenesid
E. Febuxostat
Pembahasan: Colchicine, NSAID, atau glukokortikoid merupakan terapi lini pertama serangan gout. Pada kasus ini, riwayat perdarahan gastrointestinal membuat NSAID kurang sesuai. Allopurinol, febuxostat, dan probenesid adalah ULT dan bukan obat untuk menghilangkan inflamasi serangan akut.
Soal 4 — Reasoning: CKD dan pemilihan ULT
Seorang laki-laki 65 tahun dengan gout berulang mempunyai kadar asam urat 9,4 mg/dL dan CKD stadium 3. Pasien belum pernah memperoleh ULT. Dokter meminta rekomendasi apoteker mengenai terapi awal. Pilihan yang paling tepat adalah:
A. Allopurinol dosis awal rendah, kemudian dititrasi
B. Allopurinol langsung dosis 600 mg/hari
C. Probenesid dosis tinggi sebagai lini pertama
D. Colchicine sebagai ULT jangka panjang
E. Tidak memberikan ULT karena terdapat CKD
Pembahasan: ACR merekomendasikan allopurinol sebagai lini pertama termasuk pada CKD stadium ≥3. Dosis awal sebaiknya ≤100 mg/hari dan lebih rendah lagi dapat dipertimbangkan pada CKD, kemudian dititrasi untuk mencapai target serum urat. Xanthine oxidase inhibitor lebih dipilih daripada probenesid pada CKD ≥3.
Soal 5 — Reasoning: profilaksis saat memulai ULT
Seorang pasien gout kronik akan memulai terapi dengan allopurinol. Pasien khawatir karena sebelumnya pernah mengalami serangan gout setelah memulai obat penurun asam urat. Strategi farmakoterapi yang paling tepat untuk mengurangi risiko flare pada awal terapi adalah:
A. Memberikan colchicine dosis rendah sebagai profilaksis
B. Memberikan aspirin dosis rendah (100 mg) sebagai profilaksis
C. Menghentikan allopurinol setiap kali muncul nyeri sendi
D. Menggunakan probenesid bersamaan dengan allopurinol pada semua pasien
E. Memberikan antibiotik selama tiga bulan pertama
Pembahasan: Saat memulai ULT, ACR merekomendasikan pemberian profilaksis antiinflamasi, misalnya colchicine, NSAID, atau prednisone/prednisolone sesuai kondisi pasien. Profilaksis direkomendasikan setidaknya 3–6 bulan, kemudian dievaluasi berdasarkan kejadian flare.
Soal 6 — Reasoning: obat penyerta memperburuk gout
Seorang laki-laki 60 tahun dengan hipertensi dan gout menggunakan hidroklorotiazid 25 mg/hari. Meskipun sudah menjalani modifikasi gaya hidup, kadar asam urat tetap meningkat dan serangan gout berulang. Tekanan darah 132/82 mmHg. Dokter meminta rekomendasi apoteker terkait antihipertensi pasien. Rekomendasi sesuai adalah:
A. Menaikkan dosis hidroklorotiazid
B. Mengganti hidroklorotiazid dengan losartan bila memungkinkan
C. Menambahkan aspirin dosis rendah
D. Mengganti hidroklorotiazid dengan furosemid
E. Menghentikan seluruh terapi antihipertensi
Pembahasan: Pada pasien gout, ACR secara kondisional merekomendasikan mengganti hidroklorotiazid dengan antihipertensi lain bila memungkinkan dan memilih losartan secara preferensial karena efeknya yang menguntungkan terhadap serum urat.
Soal 7 — Analisis/integrasi kasus
Seorang laki-laki 62 tahun dengan gout selama 6 tahun datang ke klinik. Dalam satu tahun terakhir ia mengalami 4 kali flare dan terdapat tofus pada ibu jari kaki. Data pasien:
- Asam urat: 9,6 mg/dL
- eGFR: 42 mL/menit/1,73 m²
- Tekanan darah: 148/88 mmHg
- Obat: hidroklorotiazid 25 mg/hari
- Belum pernah mendapatkan ULT.
Pasien sudah tidak mengalami serangan akut saat kunjungan tersebut. Apoteker diminta menyusun rekomendasi farmakoterapi. Pilihan yang paling komprehensif adalah:
A. Colchicine saja sampai kadar asam urat <6 mg/dL
B. Probenesid dosis tinggi sebagai ULT lini pertama dan mempertahankan hidroklorotiazid
C. Allopurinol dosis awal rendah, titrasi menuju serum urat <6 mg/dL, berikan profilaksis antiinflamasi saat memulai ULT, serta evaluasi penggantian hidroklorotiazid
D. Febuxostat dosis maksimal sejak awal tanpa monitoring serum urat
E. Tidak memberikan ULT karena eGFR <60 mL/menit/1,73 m²
Pembahasan: Kasus ini mengintegrasikan beberapa prinsip penting. Pasien jelas mempunyai indikasi ULT karena flare ≥2 kali/tahun dan adanya tofus. Allopurinol tetap merupakan lini pertama meskipun terdapat CKD stadium 3. Terapi dimulai dengan dosis rendah dan kemudian dititrasi berdasarkan serum urat hingga mencapai <6 mg/dL. Saat memulai ULT perlu dipertimbangkan profilaksis antiinflamasi selama setidaknya 3–6 bulan. Hidroklorotiazid juga perlu dievaluasi karena dapat memperburuk hiperurisemia; ACR menyarankan penggantian bila memungkinkan.
Osteoartritis: Soal 1 — Recall knowledge
Seorang perempuan 58 tahun didiagnosis osteoartritis lutut. Pasien mengeluhkan nyeri terutama setelah berjalan jauh. Dokter akan memberikan terapi farmakologis untuk mengurangi nyeri dengan mempertimbangkan paparan sistemik obat yang minimal. Menurut rekomendasi guideline, terapi farmakologis yang paling tepat dipertimbangkan adalah:
A. Diklofenak topikal
B. Morfin oral
C. Tramadol oral rutin
D. Glukosamin oral
E. Prednison oral jangka panjang
Pembahasan: NSAID topikal direkomendasikan untuk OA lutut dan mempunyai keuntungan berupa paparan sistemik yang lebih rendah dibanding NSAID oral. NICE secara spesifik merekomendasikan menawarkan NSAID topikal pada OA lutut. OARSI juga memberikan rekomendasi kuat untuk NSAID topikal pada knee OA.
Soal 2 — Recall knowledge
Seorang pasien dengan OA lutut mendapatkan terapi nonfarmakologis dan farmakologis. Apoteker memberikan edukasi bahwa salah satu intervensi berikut merupakan bagian penting dari terapi inti (core treatment) OA. Intervensi tersebut adalah:
A. Tirah baring
B. Latihan fisik terstruktur
C. Imobilisasi sendi jangka panjang
D. Pemberian opioid rutin
E. Injeksi kortikosteroid setiap bulan
Pembahasan: Edukasi dan structured land-based exercise merupakan terapi inti OA. Farmakoterapi digunakan bersama intervensi nonfarmakologis dan untuk mendukung aktivitas serta latihan pasien.
Soal 3 — Reasoning: risiko gastrointestinal
Seorang laki-laki 68 tahun dengan OA lutut mengalami nyeri yang tidak terkontrol dengan NSAID topikal. Dokter mempertimbangkan NSAID oral. Pasien mempunyai riwayat ulkus peptikum tetapi tidak memiliki penyakit kardiovaskular atau gangguan ginjal. Strategi terapi yang sesuai adalah:
A. Ibuprofen + aspirin
B. Naproksen tanpa gastroproteksi
C. Celecoxib dengan mempertimbangkan gastroproteksi
D. Ketorolak oral jangka panjang
E. Indometasin + aspirin
Pembahasan: Pada pasien dengan risiko GI, penggunaan NSAID oral memerlukan perhatian khusus. OARSI menempatkan COX-2 inhibitor sebagai pilihan pada pasien dengan komorbiditas GI, sedangkan NICE menyarankan gastroproteksi seperti PPI apabila NSAID oral digunakan. Poin CBT: jangan hanya mengenali “NSAID untuk OA”; mahasiswa harus menghubungkan NSAID + risiko GI + gastroproteksi.
Soal 4 — Reasoning: NSAID dan fungsi ginjal
Seorang perempuan 70 tahun dengan OA lutut mempunyai hipertensi dan CKD. Obat rutin pasien adalah:
- lisinopril 10 mg/hari
- furosemid 40 mg/hari.
Pasien membeli ibuprofen 400 mg tiga kali sehari untuk mengatasi nyeri lutut. Masalah terkait obat yang paling perlu diwaspadai apoteker adalah:
A. Hipoglikemia
B. Hiperkalsemia
C. Cedera ginjal akut
D. Hipertiroidisme
E. Anemia hemolitik
Pembahasan: Kombinasi ACE inhibitor/ARB + diuretik + NSAID dikenal meningkatkan risiko AKI (triple whammy). Pada pasien OA usia lanjut dengan CKD, NSAID oral perlu digunakan sangat hati-hati. NICE secara eksplisit meminta risiko renal, GI, hepatik, dan kardiovaskular dipertimbangkan sebelum penggunaan NSAID oral.
Soal 5 — Reasoning: memilih rute NSAID
Seorang perempuan 72 tahun dengan OA lutut mengeluhkan nyeri skala 5/10. Nyeri terutama terlokalisasi pada lutut kanan. Pasien mempunyai hipertensi terkontrol dan riwayat gastritis. Tidak terdapat tanda inflamasi sistemik. Dokter meminta rekomendasi farmakoterapi awal yang memberikan efek lokal dengan risiko efek sistemik relatif lebih rendah. Pilihan paling tepat adalah:
A. Diklofenak topikal
B. Diklofenak oral
C. Indometasin oral
D. Ketorolak oral
E. Tramadol oral
Pembahasan: Pada OA lutut dengan nyeri lokal, NSAID topikal merupakan pilihan yang rasional sebelum NSAID oral, khususnya ketika terdapat kekhawatiran terhadap efek sistemik. NICE merekomendasikan NSAID topikal pada OA lutut, sedangkan OARSI memberikan rekomendasi kuat untuk penggunaannya.
Soal 6 — Reasoning: terapi tidak efektif
Seorang laki-laki 64 tahun dengan OA lutut telah menjalani latihan fisik teratur dan menggunakan diklofenak topikal. Keluhan nyeri masih mengganggu aktivitas. Dokter mempertimbangkan NSAID oral. Pasien tidak mempunyai riwayat penyakit ginjal, kardiovaskular, atau ulkus peptikum. Prinsip penggunaan NSAID oral yang paling tepat adalah:
A. Dosis maksimal sejak awal dan digunakan terus-menerus
B. Dosis efektif terendah selama durasi sesingkat mungkin
C. Dosis ditingkatkan sampai pasien bebas nyeri sepenuhnya
D. Dikombinasikan dengan dua NSAID lain agar lebih efektif
E. Digunakan hanya jika dikombinasikan dengan opioid
Pembahasan: Prinsip penting terapi OA adalah menggunakan obat untuk mendukung terapi nonfarmakologis. Bila NSAID oral diperlukan, risiko pasien harus dinilai dan obat diberikan pada dosis efektif terendah untuk waktu sesingkat mungkin. NICE juga merekomendasikan gastroproteksi ketika NSAID oral digunakan.
Soal 7 — Analisis/integrasi kasus
Seorang perempuan 72 tahun dengan OA lutut bilateral datang ke klinik karena nyeri semakin mengganggu aktivitas. Data pasien:
- Nyeri lutut: 6/10
- BMI: 32 kg/m²
- TD: 148/86 mmHg
- eGFR: 48 mL/menit/1,73 m²
- Riwayat ulkus peptikum 3 tahun lalu
- Obat rutin: lisinopril dan hidroklorotiazid
- Pasien sering membeli ibuprofen sendiri
- Belum menjalani program latihan terstruktur.
Dokter meminta apoteker mengevaluasi terapi pasien. Rekomendasi awal yang paling komprehensif adalah:
A. Melanjutkan ibuprofen secara rutin dan menambahkan diklofenak oral bila nyeri bertambah
B. Menghentikan aktivitas fisik, memberikan parasetamol rutin dan mempertahankan ibuprofen
C. Memulai latihan terstruktur dan manajemen berat badan, menghindari penggunaan NSAID oral secara mandiri, serta mempertimbangkan NSAID topikal untuk nyeri lutut
D. Memberikan tramadol rutin karena NSAID dikontraindikasikan
E. Memberikan kortikosteroid oral jangka panjang dan menghentikan lisinopril
Pembahasan: Kasus ini menguji integrasi beberapa masalah sekaligus. Pasien mempunyai obesitas, CKD, hipertensi, riwayat ulkus, serta kombinasi ACE inhibitor + diuretik, sehingga penggunaan ibuprofen oral secara mandiri meningkatkan risiko efek samping, termasuk gangguan ginjal dan GI.
Rheumatoid Arthritis (RA): Soal 1 — Recall knowledge
Seorang perempuan 42 tahun baru didiagnosis RA dengan aktivitas penyakit sedang–tinggi. Pasien belum pernah mendapatkan DMARD dan tidak mempunyai kontraindikasi terhadap obat-obat dalam pilihan jawaban. DMARD yang sesuai sebagai terapi awal adalah:
A. Methotrexate
B. Ibuprofen
C. Prednison
D. Adalimumab
E. Tofacitinib
Pembahasan: Methotrexate (MTX) merupakan anchor drug dalam terapi RA. ACR merekomendasikan MTX monoterapi dibanding hydroxychloroquine, sulfasalazine, kombinasi csDMARD, atau memulai bDMARD/tsDMARD pada pasien DMARD-naïve dengan aktivitas sedang–tinggi. EULAR juga menyatakan MTX harus menjadi bagian dari strategi terapi pertama.
Soal 2 — Recall knowledge
Seorang pasien RA mendapatkan methotrexate sebagai terapi jangka panjang. Apoteker menjelaskan bahwa obat tersebut umumnya diberikan dengan frekuensi:
A. Satu kali sehari
B. Dua kali sehari
C. Tiga kali sehari
D. Satu kali seminggu
E. Satu kali sebulan
Pembahasan: Untuk RA, MTX diberikan sekali seminggu, bukan setiap hari. Kesalahan pemberian MTX harian merupakan medication error yang penting karena dapat menyebabkan toksisitas berat. Ini merupakan poin yang sangat relevan untuk kompetensi keselamatan obat seorang apoteker.
Soal 3 — Reasoning: methotrexate dan folat
Seorang perempuan 48 tahun dengan RA memperoleh methotrexate 15 mg sekali seminggu. Setelah beberapa minggu pasien mengeluhkan stomatitis dan mual. Dokter ingin melanjutkan methotrexate karena respons penyakit cukup baik. Intervensi farmakoterapi yang paling tepat untuk membantu mengurangi toksisitas methotrexate adalah:
A. Asam folat
B. Vitamin B12
C. Vitamin C
D. Ferrous sulfate
E. Kalsium karbonat
Pembahasan: Suplementasi folat lazim diberikan bersama MTX untuk mengurangi efek samping seperti stomatitis, gangguan gastrointestinal, peningkatan enzim hati, dan efek hematologis tanpa secara bermakna menghilangkan efektivitas MTX pada dosis RA. Poin CBT: mahasiswa sebaiknya langsung mengenali pola RA + MTX + stomatitis → evaluasi folat dan toksisitas MTX.
Soal 4 — Reasoning: monitoring methotrexate
Seorang laki-laki 55 tahun dengan RA mendapat methotrexate 15 mg/minggu. Setelah terapi beberapa bulan, pasien mengeluhkan mudah lelah. Apoteker diminta mengevaluasi keamanan terapi.
Parameter laboratorium yang sesuai untuk dimonitor secara berkala pada pasien tersebut adalah:
A. HbA1c, TSH, dan elektrolit
B. Darah lengkap, fungsi hati, dan fungsi ginjal
C. Troponin, CK-MB, dan BNP
D. Amilase, lipase, dan bilirubin saja
E. Asam urat, kalsium, dan fosfat
Pembahasan: Monitoring MTX terutama diarahkan pada mielosupresi, hepatotoksisitas, dan fungsi ginjal, karena eliminasi MTX sangat dipengaruhi fungsi renal. CBC/darah lengkap, transaminase/fungsi hati, dan fungsi ginjal merupakan parameter penting dalam monitoring keamanan.
Soal 5 — Reasoning: respons terapi tidak adekuat
Seorang perempuan 50 tahun dengan RA telah mendapatkan methotrexate dengan dosis yang telah dioptimalkan. Setelah 4 bulan, pasien masih mengalami pembengkakan beberapa sendi dan aktivitas penyakit tetap tinggi. Prinsip farmakoterapi yang sesuai adalah:
A. Mempertahankan terapi yang sama selama satu tahun
B. Menghentikan seluruh DMARD dan memberikan NSAID saja
C. Mengevaluasi dan menyesuaikan terapi DMARD untuk mencapai target
D. Mengganti methotrexate dengan prednison jangka panjang
E. Menambahkan dua NSAID secara bersamaan
Pembahasan: Prinsip treat-to-target merupakan konsep fundamental RA. EULAR menyarankan monitoring penyakit aktif setiap 1–3 bulan; jika tidak ada perbaikan dalam sekitar 3 bulan atau target belum tercapai dalam sekitar 6 bulan, terapi perlu disesuaikan. Targetnya adalah remisi atau setidaknya aktivitas penyakit rendah.
Soal 6 — Reasoning: skrining sebelum biologic DMARD
Seorang pasien RA tetap mempunyai aktivitas penyakit tinggi meskipun telah mendapatkan methotrexate secara optimal. Dokter mempertimbangkan pemberian adalimumab. Sebelum terapi tersebut dimulai, pemeriksaan yang paling penting dilakukan karena berkaitan dengan risiko reaktivasi infeksi adalah:
A. Skrining tuberkulosis
B. Pemeriksaan asam urat
C. Pemeriksaan HbA1c
D. Pemeriksaan hormon tiroid
E. Pemeriksaan amilase
Pembahasan: Adalimumab merupakan TNF inhibitor. Salah satu masalah keamanan penting pada TNF inhibitor adalah infeksi serius dan reaktivasi TB laten. Karena itu status TB perlu dinilai sebelum terapi. Dalam praktik, skrining infeksi lain termasuk hepatitis B juga relevan sesuai obat dan faktor risiko pasien.
Soal 7 — Analisis/integrasi kasus
Seorang perempuan 59 tahun dengan RA selama 5 tahun datang untuk evaluasi terapi. Data pasien:
- Methotrexate 20 mg sekali seminggu
- Asam folat
- Naproxen bila nyeri
- Terapi MTX telah dioptimalkan selama 6 bulan
- Masih terdapat pembengkakan dan nyeri pada beberapa sendi
- Aktivitas penyakit masih tinggi
- RF positif
- Radiografi menunjukkan progresi erosi sendi
- Fungsi ginjal dan hati normal
- Skrining TB negatif.
Pasien mengaku patuh menggunakan methotrexate. Dokter meminta rekomendasi apoteker mengenai langkah terapi berikutnya. Pilihan yang sesuai adalah:
A. Menghentikan methotrexate dan memberikan naproxen saja
B. Mempertahankan terapi yang sama karena DMARD membutuhkan waktu lebih dari satu tahun
C. Mempertimbangkan penambahan bDMARD pada terapi csDMARD setelah menilai faktor pasien dan keamanan
D. Mengganti methotrexate dengan prednison dosis tinggi untuk penggunaan jangka panjang
E. Menambahkan ibuprofen pada naproxen tanpa mengubah DMARD
Pembahasan: Pasien mempunyai beberapa indikator penting: aktivitas penyakit tetap tinggi meskipun MTX telah dioptimalkan, terdapat RF positif dan progresi erosi, serta kepatuhan baik. Dengan demikian, sekadar meningkatkan analgesik tidak mengatasi proses penyakit.
Osteoporosis: Soal 1 — Recall knowledge
Seorang perempuan 65 tahun telah menopause dan menjalani pemeriksaan DXA. Hasil pemeriksaan menunjukkan T-score femoral neck −2,7. Berdasarkan nilai T-score tersebut, kondisi pasien dikategorikan sebagai:
A. Normal
B. Osteopenia
C. Osteoporosis
D. Osteoporosis berat hanya bila T-score <−3,5
E. Tidak dapat ditentukan tanpa kadar kalsium
Pembahasan: Secara densitometrik, T-score ≤−2,5 pada lokasi yang sesuai memenuhi kriteria osteoporosis. Nilai antara −1,0 sampai −2,5 dikategorikan sebagai massa tulang rendah/osteopenia.
Soal 2 — Recall knowledge
Seorang perempuan 67 tahun dengan osteoporosis pascamenopause mempunyai risiko fraktur tinggi dan tidak mempunyai kontraindikasi terhadap pilihan jawaban yang ada. Obat yang sesuai sebagai salah satu pilihan terapi awal adalah:
A. Alendronat
B. Kalsitonin
C. Teriparatid
D. Raloksifen
E. Kalsium karbonat sebagai monoterapi
Pembahasan: Bisfosfonat, termasuk alendronat, risedronat dan zoledronat, merupakan pilihan awal utama pada banyak pasien osteoporosis dengan risiko fraktur tinggi. Endocrine Society merekomendasikan bisfosfonat sebagai terapi awal pada perempuan pascamenopause dengan risiko fraktur tinggi.
Soal 3 — Reasoning: cara penggunaan alendronat
Seorang perempuan 66 tahun memperoleh alendronat 70 mg sekali seminggu. Saat konseling, pasien mengatakan akan meminum obat setelah sarapan bersama obat-obat lainnya. Rekomendasi apoteker yang sesuai adalah:
A. Minum setelah sarapan bersama susu
B. Minum sebelum tidur dengan sedikit air
C. Minum saat perut kosong dengan air putih dan tetap tegak setelah minum obat
D. Minum bersama suplemen kalsium untuk meningkatkan absorpsi
E. Hancurkan tablet dan campurkan dengan makanan
Pembahasan: Bioavailabilitas oral alendronat sangat rendah dan makanan/minuman serta mineral seperti kalsium dapat menurunkan absorpsinya. Alendronat sebaiknya diminum saat perut kosong dengan air putih, kemudian pasien tetap duduk atau berdiri tegak sekurang-kurangnya sekitar 30 menit dan sampai setelah makanan pertama untuk mengurangi risiko iritasi esofagus. Poin CBT: alendronat → puasa + air putih + posisi tegak + jangan bersamaan dengan kalsium.
Soal 4 — Reasoning: gangguan esofagus
Seorang perempuan 70 tahun dengan osteoporosis mempunyai riwayat striktur esofagus dan kesulitan menelan. Dokter mempertimbangkan pemberian alendronat oral. Rekomendasi apoteker yang sesuai adalah:
A. Alendronat oral tetap diberikan setelah makan
B. Alendronat dihancurkan terlebih dahulu
C. Mempertimbangkan terapi osteoporosis nonoral seperti zoledronat IV
D. Mengganti dengan ibuprofen
E. Menggunakan kalsium saja sebagai terapi utama
Pembahasan: Bisfosfonat oral tidak sesuai pada pasien dengan kelainan esofagus tertentu yang menghambat pengosongan esofagus atau pasien yang tidak dapat memenuhi aturan administrasinya. Bisfosfonat IV seperti zoledronat dapat menjadi alternatif sesuai kondisi pasien. NOGG memasukkan alendronat/risedronat oral dan zoledronat IV sebagai pilihan antiresorptif utama.
Soal 5 — Reasoning: denosumab
Seorang perempuan 72 tahun dengan osteoporosis mendapatkan denosumab 60 mg subkutan setiap 6 bulan. Setelah terapi selama beberapa tahun, pasien merasa sudah sehat dan ingin menghentikan obat tanpa terapi pengganti. Apakah rekomendasi apoteker yang sesuai?
A. Denosumab dapat langsung dihentikan karena mempunyai efek residual panjang
B. Denosumab dapat dihentikan dan dilanjutkan dengan kalsium saja
C. Denosumab tidak boleh dihentikan tanpa rencana terapi antiresorptif berikutnya
D. Interval denosumab dapat diperpanjang menjadi dua tahun
E. Denosumab harus diganti dengan kortikosteroid
Pembahasan: Ini merupakan poin keamanan yang sangat penting. Berbeda dari bisfosfonat, efek denosumab cepat berbalik ketika terapi terlambat atau dihentikan. Penghentian dapat menyebabkan peningkatan bone turnover, kehilangan BMD secara cepat dan peningkatan risiko fraktur vertebra. Karena itu, denosumab tidak boleh dihentikan tanpa terapi antiresorptif berikutnya.
Soal 6 — Reasoning: osteoporosis akibat glukokortikoid
Seorang perempuan 68 tahun dengan penyakit autoimun akan mendapatkan prednison 10 mg/hari selama minimal 6 bulan. Pasien pascamenopause dan mempunyai faktor risiko osteoporosis. Strategi yang sesuai adalah:
A. Menunggu terjadi fraktur sebelum memberikan terapi
B. Menunggu terapi prednison selesai kemudian melakukan DXA
C. Menilai risiko fraktur dan mempertimbangkan terapi proteksi tulang sejak awal terapi glukokortikoid
D. Memberikan kalsitonin pada semua pasien untuk proteksi terjadinya fraktur
E. Tidak diperlukan tindakan karena prednison <20 mg/hari tidak akan meningkatkan terjadinya fraktur pada tulang
Pembahasan: Kehilangan tulang dan peningkatan risiko fraktur dapat terjadi relatif dini setelah penggunaan glukokortikoid sistemik. NOGG 2024 merekomendasikan bahwa pada kelompok risiko tertentu yang mendapat prednisolon ≥7,5 mg/hari atau ekuivalen selama ≥3 bulan, proteksi tulang dimulai bersamaan dengan terapi glukokortikoid dan tidak perlu menunggu DXA terlebih dahulu; pemeriksaan BMD dapat menyusul.
Soal 7 — Analisis/integrasi kasus
Seorang perempuan 73 tahun datang untuk evaluasi osteoporosis. Data pasien:
- Menopause sejak usia 51 tahun
- T-score lumbar spine: −3,2
- T-score femoral neck: −2,9
- Mengalami dua fraktur vertebra akibat trauma minimal dalam 2 tahun terakhir
- Sudah mengonsumsi kalsium dan vitamin D
- Fungsi ginjal normal
- Tidak pernah mengalami infark miokard atau stroke
- Tidak sedang menggunakan obat osteoporosis.
Dokter meminta rekomendasi apoteker mengenai strategi farmakoterapi. Pilihan yang sesuai adalah:
A. Kalsium dan vitamin D saja karena pasien berusia >70 tahun
B. Ibuprofen dan kalsium karena masalah utama osteoporosis adalah nyeri dan BMD rendah
C. Terapi pembentuk tulang seperti teriparatid, kemudian dilanjutkan antiresorptif
D. Raloksifen sebagai satu-satunya pilihan karena pasien telah menopause
E. Menunda farmakoterapi sampai terjadi fraktur panggul
Pembahasan
Pasien mempunyai osteoporosis berat disertai multiple vertebral fractures, sehingga risiko frakturnya sangat tinggi. Pada kelompok ini, pendekatan anabolic-first layak dipertimbangkan.Endocrine Society merekomendasikan teriparatid atau abaloparatid pada perempuan pascamenopause dengan risiko sangat tinggi, misalnya osteoporosis dengan fraktur vertebra berat atau multipel. Setelah terapi anabolik selesai, pasien perlu memperoleh antiresorptif untuk mempertahankan peningkatan densitas tulang. Romosozumab juga merupakan pilihan untuk risiko sangat tinggi pada pasien yang sesuai, tetapi risiko kardiovaskular perlu diperhatikan.
Baca juga:
Latihan Soal Ukom Farmakoterapi 1