"Exerpt: Tirzepatide resmi mendapat izin BPOM dan menjadi pilihan baru dalam terapi diabetes serta manajemen berat badan. Apa bedanya dengan semaglutid..."
Tirzepatide Resmi Mendapat Izin BPOM: Apa Bedanya dengan Semaglutide?
Pendahuluan
Selama beberapa tahun terakhir, obat yang bekerja pada sistem inkretin menjadi salah satu perkembangan paling menonjol dalam farmakoterapi diabetes melitus tipe 2 dan obesitas. Di antara kelompok tersebut, agonis reseptor glucagon-like peptide-1 atau GLP-1 mendapat perhatian besar karena mampu memperbaiki kontrol glikemik sekaligus membantu menurunkan berat badan. Semaglutide mungkin menjadi salah satu nama yang paling dikenal, baik oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat, karena penggunaannya semakin luas dan banyak dibicarakan dalam konteks diabetes serta manajemen menurunkan berat badan.
Namun, perkembangan terapi berbasis inkretin tidak berhenti pada agonis reseptor GLP-1. Kehadiran tirzepatide memperkenalkan pendekatan farmakologi yang berbeda. Jika semaglutide terutama bekerja sebagai agonis reseptor GLP-1, tirzepatide secara bersamaan mengaktivasi reseptor glucose-dependent insulinotropic polypeptide atau GIP dan reseptor GLP-1. Karena itu, tirzepatide sering disebut sebagai dual GIP and GLP-1 receptor agonist.
Topik ini semakin relevan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia memberikan izin edar tirzepatide pada Februari 2026 untuk pengobatan diabetes melitus tipe 2. Pada Juli 2026, BPOM juga menyampaikan adanya tambahan indikasi untuk manajemen berat badan. Persetujuan tersebut menandai hadirnya pilihan baru dalam penanganan penyakit metabolik di Indonesia. Pertanyaan pentingnya adalah: apakah penambahan aktivitas pada reseptor GIP membuat tirzepatide lebih unggul dibandingkan semaglutide? Untuk menjawabnya, perbedaan target reseptor, mekanisme kerja, efek klinis, keamanan, dan kesesuaian pasien perlu ditinjau secara kritis.
Apa Itu Tirzepatide?
Tirzepatide merupakan obat berbasis peptida sintetik yang dirancang untuk mengaktivasi dua reseptor hormon inkretin sekaligus, yaitu reseptor GIP dan GLP-1. Berbeda dengan agonis reseptor GLP-1 konvensional yang hanya menargetkan satu reseptor, tirzepatide termasuk dalam kelompok dual GIP and GLP-1 receptor agonist. Aktivasi kedua reseptor tersebut berkontribusi terhadap peningkatan sekresi insulin yang bergantung pada kadar glukosa, penurunan sekresi glukagon, perlambatan pengosongan lambung, serta pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi.
Tirzepatide diberikan melalui injeksi subkutan satu kali setiap minggu. Pemberian mingguan dimungkinkan karena obat ini mempunyai waktu paruh eliminasi sekitar lima hari. Waktu paruh yang panjang membuat konsentrasi obat dapat dipertahankan cukup lama (eleminasi relatif rendah) dalam tubuh sehingga pasien tidak perlu menggunakannya setiap hari. Tirzepatide memperoleh izin edar BPOM pada Februari 2026 untuk terapi diabetes melitus tipe 2. Selanjutnya, pada Juli 2026, BPOM mengumumkan tambahan indikasi untuk manajemen berat badan. Meskipun demikian, penggunaannya tetap harus berdasarkan indikasi resmi, penilaian klinis, dan pengawasan tenaga kesehatan. Tirzepatide bukan sekadar “obat pelangsing”, melainkan obat metabolik yang memiliki efek farmakologis sistemik serta memerlukan titrasi dosis dan pemantauan keamanan.
Sebelum Memahami Tirzepatide: Mengapa GIP dan GLP-1 Penting?
Untuk memahami mekanisme tirzepatide, perlu dipahami terlebih dahulu konsep incretin effect. Ketika glukosa diberikan melalui mulut (saluran pencernaan), respons sekresi insulin umumnya lebih besar dibandingkan ketika glukosa diberikan secara intravena, meskipun kadar glukosa darah yang dihasilkan relatif sebanding. Fenomena tersebut disebut incretin effect. Respons ini terjadi karena masuknya makanan ke saluran cerna merangsang pelepasan hormon yang memperkuat sekresi insulin dari sel beta pankreas.
Dua hormon inkretin utama adalah GIP dan GLP. Keduanya dilepaskan dari saluran cerna setelah konsumsi makanan dan meningkatkan sekresi insulin secara glucose-dependent. Artinya, efek insulinotropik terutama muncul ketika kadar glukosa meningkat. GLP-1 meningkatkan sekresi insulin, membantu menekan glukagon pada kondisi hiperglikemia, memperlambat pengosongan lambung, meningkatkan rasa kenyang, dan menurunkan asupan makanan. Kombinasi efek tersebut menjelaskan mengapa agonis reseptor GLP-1 dapat memperbaiki kontrol glikemik sekaligus menurunkan berat badan.
GIP juga meningkatkan sekresi insulin secara glucose-dependent. Selain bekerja pada pankreas, jalur GIP berhubungan dengan metabolisme jaringan adiposa, penyimpanan nutrien, dan regulasi energi. Namun, efek fisiologis GIP bersifat kompleks dan dapat berbeda bergantung pada kondisi metabolik serta kadar glukosa. GIP dan GLP-1 diketahui mempunyai efek yang saling melengkapi terhadap sekresi insulin.
Jika aktivasi reseptor GLP-1 saja telah terbukti efektif, mengapa perlu menambahkan aktivitas pada reseptor GIP? Pertanyaan inilah yang menjadi dasar pengembangan tirzepatide dan menjelaskan mengapa obat tersebut tidak dapat dipandang hanya sebagai “semaglutide dengan target tambahan”.
Bagaimana Mekanisme Kerja Tirzepatide?
Tirzepatide bekerja dengan mengaktivasi reseptor GIP dan GLP-1. Aktivasi kedua jalur inkretin tersebut menghasilkan beberapa efek farmakologis yang saling berkaitan dengan:
a. Pertama, tirzepatide meningkatkan sekresi insulin secara glucose-dependent. Artinya, efek insulinotropik terutama meningkat ketika kadar glukosa darah meningkat. Mekanisme ini membantu menjelaskan mengapa risiko hipoglikemia intrinsik relatif lebih rendah dibandingkan obat yang secara langsung meningkatkan insulin tanpa bergantung pada kadar glukosa, seperti sulfonilurea, atau dibandingkan terapi insulin. Namun, risiko hipoglikemia tetap dapat meningkat jika tirzepatide dikombinasikan dengan insulin atau sulfonilurea.
b. Kedua, tirzepatide membantu menurunkan sekresi glukagon. Secara farmakodinamik, penurunan glukagon dapat mengurangi produksi glukosa oleh hati atau hepatic glucose output. Akibatnya, kadar glukosa plasma, termasuk glukosa puasa, dapat menurun.
c. Ketiga, tirzepatide memperlambat pengosongan lambung. Masuknya nutrien ke usus menjadi lebih lambat sehingga peningkatan glukosa postprandial dapat lebih terkendali. Namun, dari perspektif farmasi klinik, efek ini juga penting karena berhubungan dengan mual, rasa penuh, dan muntah. Perlambatan pengosongan lambung juga berpotensi memengaruhi absorpsi obat oral yang diberikan bersamaan. Informasi peresepan tirzepatide secara khusus memberikan perhatian terhadap kemungkinan interaksi tersebut, terutama pada obat oral yang memerlukan pencapaian konsentrasi tertentu atau mempunyai indeks terapi sempit.
d. Keempat, tirzepatide memengaruhi regulasi nafsu makan dan asupan energi. Peningkatan rasa kenyang dan penurunan rasa lapar dapat mengurangi jumlah energi yang dikonsumsi. Oleh karena itu, penurunan berat badan akibat tirzepatide lebih tepat dipahami sebagai hasil pengaturan nafsu makan, rasa kenyang, dan asupan energi yang disertai perubahan metabolik kompleks—bukan sekadar karena obat ini “membakar lemak”.
Tirzepatide vs Semaglutide: Apa Perbedaan Farmakologinya?
Perbedaan paling mendasar antara tirzepatide dan semaglutide terletak pada target reseptornya. Semaglutide merupakan agonis reseptor GLP-1, sedangkan tirzepatide mengaktivasi reseptor GIP dan GLP-1 secara bersamaan.
Namun, aktivasi dua reseptor tidak berarti tirzepatide otomatis bekerja “dua kali lebih kuat” dibandingkan semaglutide. Farmakologi reseptor tidak sesederhana menghitung jumlah target obat. Efek klinis tirzepatide merupakan hasil interaksi kompleks antara aktivitas GIP dan GLP-1 terhadap sel beta pankreas, sekresi glukagon, regulasi energi, nafsu makan, dan berbagai respons metabolik lainnya. Efikasi suatu obat tetap harus dibuktikan melalui uji klinis yang dirancang dengan baik. Karena itu, pertanyaan berikutnya adalah: apakah perbedaan mekanisme farmakologi tirzepatide benar-benar menghasilkan manfaat klinis yang lebih besar dibandingkan semaglutide?
Apakah Tirzepatide Lebih Efektif Dibandingkan Semaglutide?
Salah satu penelitian penting yang menjawab pertanyaan tersebut adalah SURPASS-2. Uji klinis ini membandingkan tirzepatide sekali seminggu dengan semaglutide 1 mg sekali seminggu pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang mendapat terapi metformin. Setelah 40 minggu, tirzepatide menunjukkan penurunan HbA1c yang lebih besar dibandingkan semaglutide. Penurunan berat badan juga lebih besar pada kelompok tirzepatide. Dalam penelitian tersebut, tirzepatide dinilai lebih baik terhadap semaglutide dalam perubahan rerata HbA1c dari kondisi awal.
Namun, hasil tersebut perlu dibaca secara kritis. SURPASS-2 menggunakan semaglutide dosis 1 mg dan dilakukan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Karena itu, hasil penelitian tidak dapat langsung digeneralisasi untuk seluruh dosis semaglutide, seluruh indikasi, atau semua kelompok pasien. Membandingkan obat tanpa memperhatikan dosis, populasi, dan tujuan terapi dapat menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana.
Bukti menarik berikutnya berasal dari SURMOUNT-5, suatu uji klinis head-to-head yang secara langsung membandingkan tirzepatide dengan semaglutide pada orang dengan obesitas tanpa diabetes. Pada minggu ke-72, rerata penurunan berat badan mencapai sekitar 20,2% pada kelompok tirzepatide dan 13,7% pada kelompok semaglutide. Penurunan lingkar pinggang juga lebih besar pada tirzepatide, yaitu sekitar 18,4 cm dibandingkan 13,0 cm pada semaglutide.
Istilah head-to-head trial penting dipahami oleh mahasiswa farmasi. Dalam farmakoterapi, klaim bahwa obat A “lebih baik” daripada obat B idealnya tidak hanya dibuat dengan membandingkan hasil dari dua penelitian yang berbeda. Perbedaan populasi pasien, desain penelitian, dosis, lama terapi, dan parameter luaran dapat memengaruhi hasil. Pada uji head-to-head, kedua obat dibandingkan secara langsung dalam satu rancangan penelitian. Karena itu, bukti komparatif yang dihasilkan umumnya lebih langsung untuk menjawab pertanyaan mengenai efikasi relatif kedua terapi.
Jadi, apakah tirzepatide lebih efektif dibandingkan semaglutide? Pada populasi, dosis, dan luaran yang diteliti dalam SURPASS-2 dan SURMOUNT-5, data menunjukkan keunggulan tirzepatide pada beberapa parameter efikasi. Namun, dalam farmasi klinik, “lebih efektif” belum tentu berarti “lebih tepat untuk setiap pasien”. Pemilihan terapi tetap harus mempertimbangkan indikasi, karakteristik pasien, komorbiditas, keamanan, tolerabilitas, dan tujuan terapi.
Perspektif Farmasi Klinik: Apa yang Perlu Diperhatikan?
Dari perspektif farmasi klinik, penggunaan tirzepatide tidak hanya berkaitan dengan besarnya penurunan HbA1c atau berat badan. Pemilihan pasien, titrasi dosis, monitoring, dan edukasi merupakan bagian penting untuk mencapai hasil terapi yang optimal. Tirzepatide tidak langsung diberikan pada dosis tinggi. Terapi umumnya dimulai dengan dosis 2,5 mg sekali seminggu selama empat minggu, kemudian ditingkatkan menjadi 5 mg sekali seminggu. Jika diperlukan, dosis dapat dinaikkan secara bertahap sebesar 2,5 mg setelah sekurang-kurangnya empat minggu pada dosis sebelumnya. Pendekatan start low, titrate slowly ini bukan karena tirzepatide “kurang kuat” pada awal terapi, melainkan terutama untuk meningkatkan tolerabilitas dan mengurangi efek samping gastrointestinal.
Efek samping yang paling sering ditemukan meliputi mual, diare, muntah, konstipasi, nyeri atau ketidaknyamanan abdomen, dan penurunan nafsu makan. Keluhan gastrointestinal sering muncul selama periode peningkatan dosis. Karena itu, tolerabilitas pasien perlu dievaluasi sebelum dosis dinaikkan lebih lanjut.
Beberapa kondisi juga memerlukan kewaspadaan klinis, antara lain pankreatitis, gangguan kandung empedu, dehidrasi yang dapat memperburuk fungsi ginjal, hipoglikemia bila tirzepatide digunakan bersama insulin atau sulfonilurea, serta gangguan gastrointestinal berat. Informasi peresepan tirzepatide juga memuat peringatan mengenai tumor sel C tiroid berdasarkan temuan pada hewan. Tirzepatide menyebabkan tumor sel C tiroid pada tikus, tetapi belum diketahui apakah obat ini menyebabkan tumor tersebut, termasuk medullary thyroid carcinoma, pada manusia. Temuan ini perlu dikomunikasikan secara proporsional agar pasien memahami risiko tanpa menimbulkan interpretasi yang berlebihan.
Monitoring terapi dapat mencakup HbA1c, glukosa darah, berat badan, tolerabilitas gastrointestinal, tanda hipoglikemia, dan status hidrasi. Obat antidiabetes lain yang digunakan pasien juga perlu ditinjau, terutama insulin dan sulfonilurea, karena mungkin diperlukan penyesuaian terapi untuk menurunkan risiko hipoglikemia. Popularitas obat berbasis inkretin telah diikuti munculnya produk compounded dan pemasaran dengan klaim yang menyesatkan. Karena itu, pasien perlu diarahkan menggunakan obat yang berasal dari jalur distribusi resmi dan sesuai ketentuan regulator.
Jadi, Apakah Tirzepatide Lebih Baik daripada Semaglutide?
Data uji klinis menunjukkan bahwa tirzepatide dapat menghasilkan penurunan HbA1c dan berat badan yang lebih besar dibandingkan semaglutide pada populasi dan dosis tertentu. Namun, pertanyaan “obat mana yang lebih baik?” tidak dapat dijawab hanya dengan melihat satu angka penurunan HbA1c atau persentase penurunan berat badan. Dalam praktik klinis, pemilihan terapi perlu mempertimbangkan indikasi yang disetujui, karakteristik pasien, komorbiditas, target terapi, tolerabilitas, risiko efek samping, dan obat lain yang digunakan. Akses terhadap obat dan biaya terapi juga dapat memengaruhi keberlanjutan pengobatan. Dalam farmasi klinik, obat dengan efikasi tertinggi belum tentu menjadi obat terbaik untuk setiap pasien.
Tirzepatide dapat memberikan keunggulan efikasi pada kondisi tertentu, tetapi semaglutide memiliki bukti klinis dan karakteristik penggunaan yang juga perlu dipertimbangkan sesuai kebutuhan pasien. Oleh karena itu, pemilihan antara keduanya sebaiknya menggunakan pendekatan individual atau patient-centered therapy, bukan sekadar menentukan obat mana yang menghasilkan penurunan berat badan paling besar.
Kesimpulan
Tirzepatide menandai perkembangan penting dalam farmakoterapi berbasis inkretin karena mampu mengaktivasi reseptor GIP dan GLP-1 secara bersamaan. Bukti klinis menunjukkan efek yang kuat terhadap kontrol glikemik dan penurunan berat badan, termasuk ketika dibandingkan secara langsung dengan semaglutide pada populasi tertentu.
Namun, keunggulan efikasi harus diterjemahkan secara hati-hati ke dalam praktik klinis. Pemilihan pasien, titrasi dosis, monitoring keamanan, evaluasi terapi lain, dan edukasi pasien tetap menentukan keberhasilan terapi. Pada akhirnya, tujuan farmasi klinik bukan sekadar memilih obat yang paling kuat, tetapi memilih terapi yang paling tepat, aman, dan berkelanjutan untuk setiap pasien.
Baca juga artikel:
1. Mengapa Obat Diabetes Bisa Menurunkan Berat Badan?
2. Efek Samping Wegovy (Semaglutide) yang Jarang Dibahas
3. Orforglipron: GLP-1 Oral Nonpeptida Baru, Apa Bedanya dengan Semaglutide?
Daftar Pustaka
1. Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. BPOM Dorong Akses Terapi Inovatif untuk Penanganan Penyakit Metabolik dengan Zat Aktif Tirzepatide. Jakarta: BPOM RI; 2026.
2. U.S. Food and Drug Administration. Mounjaro (tirzepatide) injection, for subcutaneous use: prescribing information. Silver Spring, MD: U.S. Food and Drug Administration; 2026.
3. Frías JP, Davies MJ, Rosenstock J, et al. Tirzepatide versus semaglutide once weekly in patients with type 2 diabetes. N Engl J Med. 2021;385(6):503–515. doi:10.1056/NEJMoa2107519.
4. Aronne LJ, Horn DB, le Roux CW, et al. Tirzepatide as compared with semaglutide for the treatment of obesity. N Engl J Med. 2025;393:26–36. doi:10.1056/NEJMoa2416394.
5. Nauck MA, Quast DR, Wefers J, Meier JJ. GLP-1 receptor agonists in the treatment of type 2 diabetes—state-of-the-art. Mol Metab. 2021;46:101102. doi:10.1016/j.molmet.2020.101102.
6. Coskun T, Sloop KW, Loghin C, et al. LY3298176, a novel dual GIP and GLP-1 receptor agonist for the treatment of type 2 diabetes mellitus: from discovery to clinical proof of concept. Mol Metab. 2018;18:3–14. doi:10.1016/j.molmet.2018.09.009.