"Tidak sedikit orang dengan tekanan darah 180/110 mmHg merasa baik-baik saja. Mengapa penyakit berbahaya ini sering datang tanpa gejala dan baru diketa..."
Mengapa Hipertensi Disebut Silent Killer?
Pendahuluan
Seorang pria berusia 52 tahun datang ke sebuah puskesmas hanya untuk memeriksakan batuk ringan. Ia merasa sehat, masih bekerja setiap hari, dan tidak memiliki keluhan berarti. Sebagai bagian dari pemeriksaan rutin, petugas kesehatan mengukur tekanan darahnya. Hasilnya mengejutkan. Tekanan darahnya mencapai 180/110 mmHg.
Pasien tersebut tampak tidak percaya. Ia merasa sehat, tidak pusing, tidak nyeri kepala, dan tidak merasakan keluhan apa pun. "Kalau tekanan darah saya setinggi itu, kenapa saya tidak merasakan apa-apa?" tanyanya. Pertanyaan tersebut sangat umum ditemui dalam praktik sehari-hari. Banyak masyarakat masih percaya bahwa hipertensi selalu menimbulkan gejala, terutama pusing atau sakit kepala. Akibatnya, tidak sedikit orang yang merasa dirinya "baik-baik saja" karena tidak mengalami keluhan apa pun. Padahal, justru di situlah letak bahayanya.
Hipertensi sering disebut sebagai silent killer atau "pembunuh diam-diam" karena dapat merusak berbagai organ tubuh selama bertahun-tahun tanpa menimbulkan gejala yang jelas. Lalu mengapa hal itu bisa terjadi?
Apa Itu Hipertensi?
Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah dalam pembuluh arteri meningkat secara terus-menerus di atas batas normal. Tekanan darah merupakan gaya yang diberikan darah terhadap dinding pembuluh darah saat dipompa oleh jantung. Secara umum, tekanan darah dikategorikan tinggi apabila berada pada kisaran:
- sistolik ≥140 mmHg dan/atau
- diastolik ≥90 mmHg
berdasarkan beberapa pedoman klinis yang masih banyak digunakan di berbagai negara.
Hipertensi bukan hanya sekadar angka yang tinggi pada alat pengukur tekanan darah. Hipertensi merupakan faktor risiko utama berbagai penyakit serius, termasuk stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan gangguan penglihatan. Ironisnya, sebagian besar penderita tidak menyadari dirinya mengalami hipertensi.
Mengapa Hipertensi Tidak Bergejala?
Inilah bagian yang paling sering menimbulkan kesalahpahaman. Banyak orang beranggapan bahwa setiap penyakit pasti menimbulkan gejala. Jika tidak ada gejala, berarti tidak ada penyakit. Namun hipertensi tidak bekerja seperti itu.
1. Tubuh Memiliki Kemampuan Beradaptasi
Tubuh manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan. Ketika tekanan darah meningkat secara perlahan selama bertahun-tahun, tubuh akan beradaptasi terhadap kondisi tersebut. Otak, jantung, dan berbagai organ lainnya tetap menerima aliran darah yang cukup sehingga penderita tidak merasakan keluhan yang berarti.
Akibatnya, seseorang dapat memiliki tekanan darah 160/100 mmHg bahkan lebih tinggi tanpa merasakan gejala apa pun. Fenomena ini berbeda dengan kondisi akut, misalnya ketika tekanan darah meningkat sangat cepat dalam waktu singkat. Pada keadaan tersebut gejala biasanya lebih mudah muncul.
2. Pembuluh Darah Tidak Memiliki Sensor Nyeri yang Sensitif
Peningkatan tekanan darah kronik tidak secara langsung menimbulkan rasa sakit. Tidak seperti kulit yang memiliki banyak reseptor nyeri, pembuluh darah tidak memberikan sinyal nyeri hanya karena tekanan darah meningkat. Akibatnya, kerusakan dapat berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menimbulkan komplikasi.
3. Kerusakan Terjadi Perlahan
Hipertensi bukan penyakit yang biasanya membunuh secara mendadak pada tahap awal. Kerusakan berlangsung perlahan tetapi terus-menerus. Ibarat tetesan air yang terus menerus mengenai batu, efeknya mungkin tidak terlihat hari ini atau minggu depan, tetapi dalam jangka panjang kerusakan akan menjadi nyata.
4. Mitos: Pusing Sama dengan Hipertensi
Salah satu miskonsepsi yang paling banyak ditemukan di masyarakat adalah: "Kalau saya tidak pusing, berarti tekanan darah saya normal." Atau sebaliknya: "Kalau saya pusing, pasti tekanan darah saya sedang tinggi." Kedua pernyataan tersebut tidak selalu benar.
5. Banyak Penderita Hipertensi Tidak Pusing
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar penderita hipertensi tidak mengalami gejala yang khas. Bahkan banyak pasien baru mengetahui dirinya hipertensi setelah:
- pemeriksaan kesehatan rutin,
- skrining kesehatan di tempat kerja,
- pemeriksaan sebelum operasi,
- atau setelah mengalami komplikasi seperti stroke.
Artinya, tidak adanya pusing bukan jaminan bahwa tekanan darah seseorang normal.
6. Banyak Pusing Bukan Karena Hipertensi
Sebaliknya, keluhan pusing memiliki penyebab yang sangat beragam. Misalnya:
- kurang tidur,
- stres,
- migrain,
- vertigo,
- gangguan mata,
- anemia,
- dehidrasi,
- gula darah rendah.
Karena itu, menggunakan pusing sebagai indikator tekanan darah merupakan cara yang tidak akurat.
Satu-satunya cara mengetahui tekanan darah adalah dengan mengukurnya menggunakan alat yang valid.
Mengapa Silent Killer Sangat Berbahaya?
Istilah silent killer bukanlah sekadar istilah yang dibuat untuk menakut-nakuti masyarakat. Istilah tersebut menggambarkan fakta bahwa hipertensi dapat merusak organ-organ vital secara diam-diam dan merupakan faktor risiko:
1. Stroke
Komplikasi hipertensi yang paling dikenal adalah stroke. Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak dinding pembuluh darah otak. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan:
- penyumbatan pembuluh darah otak (stroke iskemik),
- pecahnya pembuluh darah otak (stroke hemoragik).
Hipertensi merupakan faktor risiko utama stroke di seluruh dunia. Banyak pasien baru mengetahui dirinya hipertensi setelah mengalami serangan stroke.
2. Penyakit Jantung
Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah melawan tekanan yang tinggi. Akibatnya, otot jantung mengalami penebalan yang dikenal sebagai hipertrofi ventrikel kiri. Dalam jangka panjang kondisi ini meningkatkan risiko:
- gagal jantung,
- penyakit jantung koroner,
- gangguan irama jantung.
Ironisnya, proses tersebut dapat berlangsung selama bertahun-tahun tanpa gejala yang jelas.
3. Gagal Ginjal
Ginjal mengandung jutaan pembuluh darah kecil yang berfungsi menyaring darah. Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak pembuluh-pembuluh darah tersebut. Kerusakan ginjal akibat hipertensi sering kali baru terdeteksi setelah fungsi ginjal menurun cukup berat. Pada tahap lanjut, sebagian pasien memerlukan cuci darah (hemodialisis).
4. Retinopati Hipertensi
Pembuluh darah pada retina mata juga dapat mengalami kerusakan akibat hipertensi. Kerusakan ini disebut retinopati hipertensi. Pada tahap awal penderita mungkin tidak merasakan gangguan penglihatan. Namun jika kerusakan berlanjut, penglihatan dapat terganggu secara permanen.
Mengapa Banyak Orang Tidak Menyadari Hipertensinya?
Terdapat beberapa alasan mengapa hipertensi sering tidak terdeteksi.
1. Jarang Memeriksa Tekanan Darah
Banyak orang hanya memeriksa tekanan darah ketika sakit. Padahal hipertensi sering tidak menimbulkan gejala.
2. Merasa Sehat
Perasaan sehat sering dianggap sebagai bukti bahwa tubuh baik-baik saja. Padahal tekanan darah tinggi tidak selalu memengaruhi perasaan seseorang.
3. Takut Mengetahui Hasil
Sebagian orang sengaja menghindari pemeriksaan kesehatan karena takut mengetahui adanya penyakit. Padahal mengetahui lebih awal justru memberikan peluang yang lebih baik untuk mencegah komplikasi.
Pentingnya Skrining Tekanan Darah
Karena hipertensi sering tidak bergejala, skrining menjadi sangat penting. Organisasi kesehatan di seluruh dunia menganjurkan pemeriksaan tekanan darah secara berkala, terutama pada:
- usia di atas 40 tahun,
- individu dengan riwayat keluarga hipertensi,
- penderita diabetes,
- perokok,
- individu dengan obesitas.
Pemeriksaan tekanan darah saat ini relatif mudah dilakukan. Bahkan banyak fasilitas kesehatan primer, apotek, dan kegiatan masyarakat yang menyediakan layanan pemeriksaan tekanan darah. Prinsipnya sederhana: Anda tidak dapat mengendalikan tekanan darah yang tidak pernah Anda ukur.
Kapan Harus Memeriksa Tekanan Darah?
Bagi orang dewasa sehat, pemeriksaan tekanan darah secara berkala setidaknya setahun sekali merupakan langkah yang baik. Bagi individu dengan faktor risiko, pemeriksaan mungkin perlu dilakukan lebih sering sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Tekanan Darah Tinggi?
Jika hasil pengukuran menunjukkan tekanan darah tinggi, jangan panik. Satu kali hasil tinggi belum tentu berarti seseorang langsung didiagnosis hipertensi. Biasanya diperlukan:
- pengukuran berulang,
- evaluasi faktor risiko,
- penilaian oleh tenaga kesehatan.
Jika diagnosis hipertensi ditegakkan, pengelolaan meliputi:
- perbaikan pola makan,
- aktivitas fisik teratur,
- pengendalian berat badan,
- penghentian merokok,
- dan bila diperlukan penggunaan obat antihipertensi.
Yang terpenting, jangan menunggu munculnya gejala sebelum mengambil tindakan.
Kesimpulan
Hipertensi disebut silent killer karena sering kali tidak menimbulkan gejala yang jelas meskipun tekanan darah sudah sangat tinggi. Banyak penderita merasa sehat dan tidak mengalami pusing, padahal kerusakan pada pembuluh darah, jantung, ginjal, dan mata sudah mulai berlangsung. Miskonsepsi bahwa hipertensi selalu menyebabkan pusing perlu diluruskan. Faktanya, banyak penderita hipertensi tidak mengalami pusing sama sekali. Sebaliknya, banyak keluhan pusing justru tidak berkaitan dengan tekanan darah.
Karena itu, satu-satunya cara mengetahui tekanan darah adalah dengan mengukurnya secara berkala. Pemeriksaan rutin jauh lebih penting daripada menunggu munculnya gejala. Karena hipertensi sering tidak bergejala, muncul pertanyaan lain yang juga sering salah dipahami: apakah obat hipertensi cukup diminum saat pusing? Pertanyaan inilah yang akan kita bahas pada artikel berikutnya.
Baca juga artikel lain yang berjudul:
1. Benarkah Kopi Bisa Menyebabkan Tekanan Darah Naik?
2. Obat Hipertensi Hanya Diminum Saat Pusing?
3. Tekanan Darah Sudah Normal, Bolehkah Obat Dihentikan?
4. 5 Kesalahan Terbesar dalam Mengelola Hipertensi yang Masih Sering Dilakukan
Daftar Pustaka
1. World Health Organization. Hypertension Fact Sheet. Geneva: WHO.
2. International Society of Hypertension. 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines.
3. American Heart Association. Understanding Blood Pressure Readings and Hypertension.
4. Whelton PK, Carey RM, Aronow WS, et al. 2017 ACC/AHA Guideline for the Prevention, Detection, Evaluation, and Management of High Blood Pressure in Adults. Hypertension. 2018.
5. European Society of Cardiology & European Society of Hypertension. Guidelines for the Management of Arterial Hypertension.
6. Mills KT, Stefanescu A, He J. The Global Epidemiology of Hypertension. Nature