Edukasi Farmasi & Kesehatan

Multivitamin: Kebutuhan atau Sekadar Tren?

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
July 28, 2026 5 min read
Multivitamin: Kebutuhan atau Sekadar Tren?
Photo by Unsplash

"Multivitamin menjadi salah satu suplemen paling populer, tetapi apakah benar semua orang membutuhkannya? Kenali manfaat, keterbatasan, serta hasil pen..."

Multivitamin: Kebutuhan atau Sekadar Tren?

      Pernahkah Anda memulai hari dengan menelan satu tablet multivitamin sebelum berangkat bekerja atau kuliah? Atau mungkin Anda merasa belum lengkap menjaga kesehatan jika belum mengonsumsi multivitamin setiap pagi? Kebiasaan ini kini menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Rak-rak apotek, supermarket, hingga toko daring dipenuhi berbagai merek multivitamin yang menawarkan beragam manfaat, mulai dari meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga stamina, meningkatkan konsentrasi, mempercantik kulit, hingga memperlambat proses penuaan.

      Fenomena ini menguat sejak pandemi COVID-19. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan memang meningkat, namun di sisi lain muncul anggapan bahwa mengonsumsi multivitamin setiap hari adalah salah satu syarat agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit. Tidak sedikit pula yang beranggapan bahwa semakin banyak vitamin yang dikonsumsi, semakin besar pula manfaat yang diperoleh. Pertanyaannya, apakah anggapan tersebut benar?

      Dari sudut pandang farmasi-kesehatan, jawabannya tidak sesederhana "ya" atau "tidak". Multivitamin memang dapat memberikan manfaat pada kondisi tertentu, tetapi bukan berarti semua orang sehat membutuhkannya setiap hari. Bahkan, penggunaan yang tidak tepat dapat menyebabkan asupan beberapa vitamin atau mineral melebihi kebutuhan tubuh, meningkatkan risiko efek samping maupun interaksi dengan obat yang sedang dikonsumsi.

      Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa multivitamin bukan sekadar produk kesehatan yang aman dikonsumsi tanpa pertimbangan, melainkan suplemen yang penggunaannya juga harus rasional dan berbasis bukti ilmiah (evidence-based).

Apa Sebenarnya Multivitamin?

      Istilah multivitamin sering digunakan secara luas, tetapi tidak semua orang memahami apa yang sebenarnya dimaksud dengan produk tersebut. Secara umum, multivitamin adalah suplemen yang mengandung kombinasi dua atau lebih vitamin, dengan atau tanpa tambahan mineral maupun zat gizi lainnya, yang bertujuan melengkapi kebutuhan nutrisi tubuh. Komposisinya sangat bervariasi antarproduk. Ada yang hanya berisi vitamin A, B kompleks, C, D, dan E, sementara produk lain juga menambahkan mineral seperti zinc, magnesium, selenium, kalsium, atau zat besi.

      Multivitamin termasuk dalam kelompok suplemen kesehatan dan merupakan bagian dari sediaan farmasi yang peredarannya diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Produk suplemen harus memenuhi persyaratan keamanan, mutu, dan pelabelan sebelum memperoleh izin edar. Namun, berbeda dengan obat, suplemen tidak ditujukan untuk mengobati atau menyembuhkan penyakit, melainkan untuk membantu memenuhi kebutuhan zat gizi apabila asupan dari makanan belum mencukupi atau terdapat kondisi tertentu yang meningkatkan kebutuhan nutrisi.

      Perlu dipahami pula bahwa tidak ada standar baku mengenai kandungan suatu multivitamin. Dua produk dengan nama yang sama-sama mencantumkan kata multivitamin dapat memiliki komposisi yang sangat berbeda. Sebagai contoh, satu produk mungkin mengandung vitamin C 500 mg dan zinc 10 mg, sedangkan produk lain kandungannya antara lain vitamin C 60 mg tanpa mineral sama sekali. Oleh karena itu, masyarakat tidak seharusnya memilih multivitamin hanya berdasarkan merek atau iklan, tetapi juga perlu memperhatikan komposisi, dosis, dan tujuan penggunaannya.

Multivitamin Berbeda dengan Suplemen Tunggal

      Salah satu miskonsepsi yang cukup sering ditemui adalah anggapan bahwa semua suplemen vitamin memiliki fungsi yang sama. Padahal, dari sudut pandang farmasi, terdapat perbedaan mendasar antara multivitamin dan suplemen tunggal.

      Suplemen tunggal mengandung satu jenis zat gizi tertentu, misalnya vitamin D saja, vitamin C saja, atau zinc saja. Produk seperti ini umumnya digunakan ketika seseorang membutuhkan suplementasi spesifik berdasarkan kondisi klinis, hasil pemeriksaan laboratorium, atau rekomendasi tenaga kesehatan. Sebagai contoh, pasien dengan defisiensi vitamin D akan lebih tepat memperoleh suplemen vitamin D dibandingkan multivitamin dengan kandungan vitamin D yang relatif rendah.

      Sebaliknya, multivitamin mengandung berbagai vitamin dan mineral dalam satu sediaan. Tujuannya adalah melengkapi kebutuhan nutrisi secara umum, bukan mengatasi kekurangan satu zat gizi tertentu. Konsekuensinya, kadar masing-masing komponen dalam multivitamin sering kali lebih rendah dibandingkan suplemen tunggal. Oleh karena itu, multivitamin tidak selalu dapat menggantikan terapi suplementasi yang memang ditujukan untuk mengatasi defisiensi nutrisi tertentu.

Mengapa Multivitamin Begitu Populer?

       Popularitas multivitamin tidak muncul begitu saja. Ada beberapa faktor yang membuat produk ini menjadi salah satu suplemen yang paling banyak dikonsumsi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

      Faktor pertama adalah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Semakin banyak orang ingin menjaga tubuh tetap bugar dan mencegah penyakit sebelum terjadi. Sayangnya, semangat tersebut sering kali diikuti oleh anggapan bahwa mengonsumsi multivitamin merupakan cara paling mudah untuk mencapai tujuan tersebut.

     Faktor kedua adalah pengaruh pemasaran. Iklan multivitamin hampir selalu menampilkan pesan yang menarik, seperti "meningkatkan daya tahan tubuh", "menambah energi", "menjaga kesehatan keluarga", atau "membantu aktivitas sehari-hari". Klaim-klaim tersebut sering kali disampaikan secara sederhana sehingga masyarakat mudah menyimpulkan bahwa multivitamin diperlukan oleh semua orang, meskipun bukti ilmiah tidak selalu mendukung penggunaan rutin pada individu yang sehat.

      Selain itu, media sosial turut memperkuat persepsi bahwa suplemen merupakan bagian dari gaya hidup modern. Tidak sedikit tokoh publik maupun influencer yang membagikan rutinitas konsumsi berbagai jenis vitamin setiap hari. Meskipun pengalaman pribadi dapat menjadi inspirasi, hal tersebut bukanlah bukti ilmiah yang dapat diterapkan pada seluruh populasi.

       Dari sisi psikologi kesehatan, konsumsi multivitamin juga memberikan rasa aman (health reassurance). Banyak orang merasa telah melakukan sesuatu yang baik bagi kesehatannya setelah mengonsumsi satu tablet multivitamin, meskipun pola makan, aktivitas fisik, atau kualitas tidurnya belum optimal. Fenomena ini dikenal sebagai health halo effect, yaitu kecenderungan seseorang merasa lebih sehat hanya karena melakukan satu tindakan yang dianggap positif.

      Sebagai farmasis, saya memandang bahwa inilah salah satu tantangan terbesar dalam edukasi kesehatan. Multivitamin sering dipersepsikan sebagai "jaminan kesehatan", padahal kesehatan seseorang jauh lebih ditentukan oleh pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang teratur, tidur yang cukup, pengendalian stres, serta pengelolaan faktor risiko seperti merokok dan konsumsi alkohol.

Apa Kata Penelitian? Siapa yang Membutuhkan Multivitamin?

      Setelah memahami apa itu multivitamin dan mengapa produk ini begitu populer, pertanyaan berikutnya adalah apakah konsumsi multivitamin setiap hari benar-benar memberikan manfaat bagi orang sehat?

      Jawaban atas pertanyaan ini tidak dapat didasarkan pada pengalaman pribadi atau testimoni di media sosial, melainkan harus merujuk pada hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukan selama puluhan tahun. Hingga saat ini, berbagai uji klinis dan systematic review telah mengevaluasi efektivitas multivitamin dalam mencegah penyakit kronis, meningkatkan kesehatan, maupun memperpanjang harapan hidup. Hasilnya menunjukkan bahwa manfaat multivitamin tidak sesederhana yang sering digambarkan dalam iklan.

Apa Kata Penelitian?

      Salah satu lembaga yang paling sering dijadikan rujukkan dalam penyusunan rekomendasi kesehatan adalah U.S. Preventive Services Task Force (USPSTF). Pada tahun 2022, USPSTF menyatakan bahwa bukti ilmiah saat ini belum cukup untuk mendukung penggunaan multivitamin secara rutin guna mencegah penyakit kardiovaskular maupun kanker pada orang dewasa sehat. Bahkan, penggunaan beberapa suplemen tertentu seperti beta-karoten dosis tinggi justru dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker paru pada perokok.

      Temuan tersebut sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa mengonsumsi multivitamin tidak secara konsisten menurunkan angka kematian, kejadian stroke, serangan jantung, ataupun berbagai penyakit kronis lainnya pada populasi umum. Namun demikian, bukan berarti seluruh penelitian menunjukkan hasil yang negatif.

Physicians' Health Study II

      Salah satu penelitian terbesar mengenai multivitamin adalah Physicians' Health Study II, yang melibatkan lebih dari 14.000 dokter laki-laki di Amerika Serikat dan diikuti selama lebih dari satu dekade. Penelitian ini menemukan bahwa konsumsi multivitamin setiap hari sedikit menurunkan kejadian kanker secara keseluruhan, tetapi tidak memberikan penurunan bermakna terhadap angka kematian akibat kanker maupun penyakit kardiovaskular. Efek yang diperoleh juga relatif kecil sehingga tidak dapat dijadikan alasan bahwa semua orang sehat harus mengonsumsi multivitamin.

COSMOS Trial

      Penelitian yang lebih baru, yaitu COcoa Supplement and Multivitamin Outcomes Study (COSMOS), mengevaluasi penggunaan multivitamin pada lansia. Hasilnya menunjukkan adanya kemungkinan manfaat terhadap beberapa aspek fungsi kognitif, terutama memori pada kelompok usia lanjut.

      Meskipun hasil ini menarik, para peneliti menegaskan bahwa bukti tersebut masih memerlukan konfirmasi lebih lanjut sebelum dapat diterapkan sebagai rekomendasi umum bagi seluruh populasi.

Dari berbagai penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa multivitamin bukanlah "pil ajaib" yang mampu mencegah berbagai penyakit pada setiap orang. Manfaatnya bergantung pada kondisi individu, status gizi, usia, penyakit penyerta, dan kemungkinan adanya kekurangan zat gizi tertentu.

Mengapa Hasil Penelitian Sering Berbeda?

      Tidak jarang masyarakat merasa bingung karena satu penelitian menyatakan multivitamin bermanfaat, sementara penelitian lain menyebutkan manfaatnya minimal. Perbedaan ini sebenarnya dapat dijelaskan dari beberapa factor, antara lain:

1.     Status gizi peserta penelitian. Orang yang sudah memiliki asupan vitamin dan mineral yang cukup melalui makanan kemungkinan tidak memperoleh manfaat tambahan dari multivitamin. Sebaliknya, individu dengan kekurangan nutrisi lebih mungkin memperoleh manfaat.

2.     Komposisi multivitamin sangat bervariasi. Tidak ada satu formula multivitamin yang digunakan pada semua penelitian. Kandungan vitamin, mineral, dosis, hingga bentuk sediaannya berbeda-beda sehingga hasil penelitian pun sulit dibandingkan secara langsung.

3.     Lama penelitian. Penyakit kronis seperti kanker atau penyakit jantung berkembang selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, penelitian dengan durasi yang lebih singkat mungkin belum mampu menunjukkan manfaat atau risiko secara optimal.

4.     Gaya hidup peserta. Pola makan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan faktor genetik juga sangat memengaruhi hasil penelitian.

Hal inilah yang menjelaskan mengapa dalam dunia farmasi dikenal prinsip bahwa tidak ada satu intervensi yang cocok untuk semua orang (one size does not fit all).

Siapa yang Benar-Benar Membutuhkan Multivitamin?

      Jika orang sehat belum tentu memerlukannya, lalu siapa yang memang dapat memperoleh manfaat dari multivitamin? Secara umum, suplementasi multivitamin dapat dipertimbangkan pada kelompok yang berisiko mengalami kekurangan zat gizi, antara lain:

1.   Lansia

Seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh menyerap beberapa vitamin dan mineral dapat menurun. Selain itu, nafsu makan yang berkurang juga menyebabkan asupan nutrisi tidak lagi optimal. Pada kelompok ini, multivitamin dapat membantu melengkapi kebutuhan nutrisi apabila pola makan tidak mencukupi.

2.   Individu dengan Pola Makan yang Sangat Terbatas

Orang yang menjalani diet sangat ketat, vegetarian atau vegan tanpa perencanaan nutrisi yang baik, maupun mereka yang memiliki alergi terhadap berbagai jenis makanan berpotensi mengalami kekurangan beberapa vitamin dan mineral tertentu.

Namun demikian, pada kondisi tertentu suplementasi tunggal, misalnya vitamin B12 pada vegan, sering kali lebih tepat dibandingkan multivitamin.

3.   Pasien dengan Gangguan Penyerapan Nutrisi

Penderita penyakit celiac, inflammatory bowel disease, sindrom malabsorpsi, maupun pasien pasca operasi bariatrik sering mengalami gangguan absorpsi berbagai zat gizi sehingga membutuhkan suplementasi berdasarkan rekomendasi tenaga kesehatan.

4.   Kondisi Fisiologis Tertentu

Kehamilan merupakan contoh paling jelas bahwa kebutuhan beberapa vitamin meningkat. Namun, suplementasi pada ibu hamil umumnya menggunakan formulasi prenatal yang telah disesuaikan, bukan sembarang multivitamin.

Apakah Semua Multivitamin Aman?

      Masyarakat sering menganggap bahwa multivitamin tidak mungkin berbahaya karena kandungannya adalah vitamin. Anggapan tersebut kurang tepat. Walaupun relatif aman bila digunakan sesuai dosis yang dianjurkan, penggunaan multivitamin tetap dapat menimbulkan masalah apabila dikonsumsi secara berlebihan atau dikombinasikan dengan produk lain yang memiliki kandungan serupa.

      Misalnya, seseorang mengonsumsi multivitamin, kemudian masih menambahkan vitamin C dosis tinggi, vitamin D, zinc, dan berbagai suplemen lain secara bersamaan. Tanpa disadari, total asupan beberapa zat gizi dapat melebihi Upper Intake Level (UL) yang direkomendasikan. Pada vitamin larut lemak (A, D, E, dan K), kelebihan asupan lebih berisiko karena vitamin tersebut dapat disimpan dalam tubuh. Sebagai contoh:

·       Vitamin A berlebihan dapat menyebabkan kerusakan hati, nyeri tulang, hingga meningkatkan risiko kelainan kongenital pada kehamilan. 

·       Vitamin D dosis tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan hiperkalsemia, batu ginjal, bahkan gangguan fungsi ginjal. 

·       Zat besi yang tidak diperlukan tubuh dapat menyebabkan gangguan saluran cerna dan, pada kondisi tertentu, keracunan. 

Karena itu, prinsip "lebih banyak lebih baik" tidak berlaku pada vitamin maupun mineral.

Interaksi Multivitamin dengan Obat

      Sebagai farmasis, saya sering menemukan bahwa pasien lupa memberi tahu dokter atau apoteker mengenai suplemen yang mereka konsumsi. Padahal, beberapa komponen multivitamin dapat memengaruhi efektivitas obat. Beberapa contoh yang penting diketahui adalah:

·       Kalsium, magnesium, dan zat besi dapat menghambat penyerapan antibiotik golongan tetrasiklin dan fluorokuinolon. 

·       Zat besi dan kalsium juga dapat menurunkan absorpsi levotiroksin sehingga kedua produk sebaiknya diberikan dengan jarak waktu minimal 4 jam. 

·       Vitamin K dapat mengurangi efek antikoagulan seperti warfarin sehingga pasien yang menggunakan warfarin perlu menjaga asupan vitamin K tetap konsisten. 

Interaksi semacam ini menunjukkan bahwa suplemen bukanlah produk yang sepenuhnya bebas risiko.

Bagaimana Memilih Multivitamin Secara Rasional? 

      "Tidak semua orang memerlukan multivitamin, tetapi setiap orang perlu memahami kapan multivitamin bermanfaat dan kapan justru tidak diperlukan." Kalimat tersebut mungkin dapat menjadi benang merah dari seluruh pembahasan mengenai multivitamin. Setelah memahami definisi, bukti ilmiah, manfaat, serta keterbatasannya, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: "Kalau saya ingin membeli multivitamin, bagaimana cara memilihnya?" Sebagai farmasis, saya memandang bahwa memilih multivitamin seharusnya tidak didasarkan pada iklan, harga, atau popularitas merek, tetapi pada kebutuhan individu, keamanan produk, dan bukti ilmiah.

Bagaimana Memilih Multivitamin Secara Rasional?

      Tersedia ratusan produk multivitamin dengan komposisi yang sangat beragam. Sebagian diformulasikan untuk anak-anak, dewasa, lansia, ibu hamil, atau kelompok dengan kebutuhan khusus. Oleh karena itu, tidak ada satu produk yang dapat dianggap paling baik untuk semua orang.

Berikut beberapa prinsip yang dapat dijadikan panduan.

1.   Pastikan Memang Ada Indikasi

      Pertanyaan pertama yang perlu dijawab bukanlah "Multivitamin apa yang bagus?", melainkan: "Apakah saya benar-benar membutuhkan multivitamin?" Bila seseorang sehat, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memiliki berat badan yang baik, serta tidak mengalami kondisi yang meningkatkan kebutuhan nutrisi, kemungkinan besar kebutuhan vitamin dan mineral telah tercukupi dari makanan sehari-hari.

      Sebaliknya, pada lansia, ibu hamil, individu dengan pola makan yang sangat terbatas, atau pasien dengan gangguan penyerapan nutrisi, suplementasi mungkin memang diperlukan. Prinsip ini sejalan dengan konsep person-centered care, yaitu pemberian terapi atau suplemen disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu.

2.   Perhatikan Kandungan, Bukan Sekadar Merek

      Kesalahan yang cukup sering ditemui adalah memilih multivitamin hanya karena mereknya terkenal. Padahal, dua produk dari merek yang berbeda dapat memiliki kandungan yang hampir sama, sedangkan dua produk dari merek yang sama dapat memiliki komposisi yang berbeda karena ditujukan untuk kelompok usia atau kebutuhan yang berbeda. Sebelum membeli, biasakan membaca label untuk mengetahui:

·       jenis vitamin dan mineral yang terkandung, 

·       jumlah masing-masing zat gizi, 

·       persentase Angka Kecukupan Gizi (AKG), 

·       dosis yang dianjurkan,

·       kelompok pengguna yang dituju. 

Sebagai farmasis, saya lebih menyarankan masyarakat membandingkan komposisi daripada sekadar membandingkan merek.

3.  Jangan Menganggap "Semakin Tinggi Dosis Semakin Baik"

      Banyak produk mencantumkan vitamin C 1.000 mg atau vitamin D dalam dosis tinggi sebagai daya tarik pemasaran. Padahal, dosis yang tinggi belum tentu memberikan manfaat tambahan pada individu yang tidak mengalami defisiensi. Bahkan, penggunaan jangka panjang dapat meningkatkan risiko efek samping pada beberapa vitamin dan mineral.

      Dalam farmakologi dikenal konsep rentang terapi (therapeutic range). Artinya, manfaat suatu zat umumnya diperoleh pada dosis yang sesuai kebutuhan, sedangkan dosis yang terlalu tinggi belum tentu meningkatkan efektivitas dan justru dapat meningkatkan risiko toksisitas.

4.   Pilih Produk yang Memiliki Izin Edar

      Meskipun tampak sederhana, hal ini sering diabaikan. Pastikan multivitamin memiliki nomor izin edar BPOM, sehingga mutu, keamanan, dan informasi pada label telah melalui proses evaluasi regulator. Hindari membeli produk yang menjanjikan manfaat berlebihan, seperti:

  • menyembuhkan berbagai penyakit, 
  • meningkatkan imun secara instan, 
  • menggantikan pola makan sehat,
  • memperlambat penuaan secara signifikan. 

Klaim seperti ini umumnya tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.

5. Konsultasikan dengan Apoteker atau Dokter

      Konsultasi menjadi semakin penting apabila seseorang:

  • mengonsumsi beberapa obat sekaligus; 
  • sedang hamil atau menyusui; 
  • memiliki penyakit ginjal atau hati; 
  • memiliki penyakit kronis; 
  • menggunakan antikoagulan seperti warfarin; 
  • mengonsumsi levotiroksin atau antibiotik tertentu. 

Dengan demikian, potensi interaksi maupun penggunaan yang tidak perlu dapat dihindari.

image.png 231.16 KB
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1.   Apakah multivitamin boleh diminum setiap hari?

Boleh apabila memang terdapat indikasi atau rekomendasi tenaga kesehatan. Namun, pada sebagian besar orang sehat dengan pola makan yang baik, konsumsi rutin belum tentu memberikan manfaat tambahan.

2.   Kapan waktu terbaik mengonsumsi multivitamin?

Sebagian besar multivitamin dianjurkan diminum setelah makan agar penyerapan vitamin larut lemak (A, D, E, dan K) lebih baik serta mengurangi risiko iritasi lambung.

3.  Apakah boleh mengonsumsi beberapa multivitamin sekaligus?

Sebaiknya tidak, kecuali atas anjuran tenaga kesehatan. Mengonsumsi beberapa produk dengan kandungan yang serupa dapat menyebabkan asupan vitamin atau mineral melebihi batas aman.

4.  Apakah multivitamin dapat meningkatkan daya tahan tubuh?

Apabila seseorang mengalami kekurangan vitamin atau mineral yang berperan dalam fungsi imun, suplementasi dapat membantu memperbaiki fungsi tersebut. Namun, pada individu dengan status gizi yang baik, bukti bahwa multivitamin meningkatkan daya tahan tubuh secara bermakna masih terbatas.

5.  Apakah anak dan remaja memerlukan multivitamin setiap hari?

Tidak selalu. Anak dengan pertumbuhan normal dan pola makan yang baik umumnya tidak memerlukan suplementasi rutin. Pemberian multivitamin sebaiknya mempertimbangkan kondisi klinis, pola makan, dan rekomendasi tenaga kesehatan.

Kesimpulan

      Multivitamin merupakan salah satu suplemen yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, tetapi popularitasnya tidak selalu sejalan dengan kebutuhan nyata. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pada sebagian besar orang dewasa sehat yang memiliki pola makan bergizi seimbang, konsumsi multivitamin secara rutin belum terbukti memberikan manfaat yang bermakna dalam mencegah penyakit kronis atau memperpanjang usia harapan hidup.

      Sebaliknya, pada kelompok tertentu—seperti lansia, ibu hamil, individu dengan pola makan yang sangat terbatas, atau pasien dengan gangguan penyerapan nutrisi—multivitamin dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga status gizi apabila digunakan secara tepat. Penggunaan multivitamin seharusnya mengikuti prinsip penggunaan rasional, yaitu berdasarkan indikasi yang jelas, dosis yang sesuai, produk yang bermutu, serta mempertimbangkan potensi interaksi dan efek samping. Edukasi masyarakat perlu bergeser dari pertanyaan "Multivitamin apa yang paling bagus?" menjadi "Apakah saya benar-benar membutuhkan multivitamin?"

      Pada akhirnya, fondasi kesehatan tetap terletak pada pola makan bergizi seimbang, aktivitas fisik yang teratur, tidur yang cukup, pengelolaan stres, dan pengendalian faktor risiko penyakit. Multivitamin dapat menjadi pelengkap dalam kondisi tertentu, tetapi bukan pengganti gaya hidup sehat.

Baca Juga Artikel: 

1.     Apakah Vitamin C Benar-Benar Mencegah Flu? 

2.     Vitamin D, Zinc, dan Vitamin C untuk Imunitas: Apa Kata Penelitian? 

3.     Cara Memilih Suplemen yang Tepat: Jangan Tergiur Klaim Iklan. 

Daftar Pustaka

1.     US Preventive Services Task Force. Vitamin, mineral, and multivitamin supplementation to prevent cardiovascular disease and cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA. 2022;327(23):2326-33. 

2.     Sesso HD, Christen WG, Bubes V, Smith JP, MacFadyen J, Schvartz M, et al. Multivitamins in the prevention of cardiovascular disease in men: the Physicians' Health Study II randomized controlled trial. JAMA. 2012;308(17):1751-60. 

3.     Sesso HD, Rist PM, Aragaki AK, Manson JE, Bassuk SS, Shadyab AH, et al. Effect of multivitamin supplementation on cognitive function: the COSMOS-Mind randomized clinical trial. Alzheimers Dement. 2024;20(1):1-12. 

4.     National Institutes of Health, Office of Dietary Supplements. Dietary Supplements Fact Sheets for Health Professionals [Internet]. Bethesda (MD): National Institutes of Health; [cited 2026 Jul 24]. Available from: https://ods.od.nih.gov/ 

5.     Manson JE, Bassuk SS. Vitamin and mineral supplements: what clinicians need to know. JAMA. 2018;319(9):859-60.