"Gula darah masih normal belum tentu berarti metabolisme tubuh sepenuhnya sehat. Pada sebagian orang, tubuh dapat meningkatkan produksi insulin untuk m..."
Gula Darah Normal, Apakah Metabolisme Tubuh Pasti Sehat? Mengenal Hiperinsulinemia
Hasil medical check-up menunjukkan glukosa darah puasa 92 mg/dL. Angka tersebut masih berada dalam rentang normal. Tidak mengherankan jika seseorang kemudian merasa lega: “Gula darah saya normal, berarti metabolisme tubuh saya juga masih baik.” Namun, ada pertanyaan lain yang jarang diajukan: bagaimana tubuh mempertahankan gula darah tersebut tetap normal? Untuk menjawabnya, kita perlu mengenal insulin.
Pada sebagian orang, tubuh dapat mensekresi insulin dalam jumlah lebih besar untuk mengimbangi menurunnya respons jaringan terhadap hormon tersebut. Akibatnya, kadar glukosa untuk sementara masih dapat dipertahankan dalam rentang normal. Fenomena ini sering disebut hiperinsulinemia kompensatorik.
Apakah ini berarti orang dengan gula darah normal dapat mengalami resistensi insulin? Bisa. Tetapi apakah itu berarti setiap orang dengan gula darah normal harus memeriksa kadar insulin dan menghitung Homeostatic Model Assessment of Insulin Resistance (HOMA-IR)? Jawabannya juga tidak. Di sinilah kita perlu berhati-hati agar tidak mengganti satu miskonsepsi dengan miskonsepsi yang lain.
Apa Sebenarnya Tugas Insulin?
Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh sel beta pankreas. Sekresinya meningkat terutama sebagai respons terhadap peningkatan glukosa setelah kita makan, meskipun berbagai nutrien, hormon, dan sinyal fisiologis lainnya juga ikut memengaruhinya. Insulin sering dianalogikan sebagai “kunci” yang membuka pintu sel agar glukosa dapat masuk. Analogi tersebut membantu, tetapi sebenarnya terlalu sederhana. Insulin bekerja pada berbagai jaringan dan mengatur banyak proses metabolik.
Pada otot rangka, insulin meningkatkan pengambilan glukosa dan mendorong penyimpanannya dalam bentuk glikogen. Pada jaringan adiposa, insulin antara lain meningkatkan pengambilan glukosa dan menekan pemecahan trigliserida atau lipolisis. Sementara itu, di hati, insulin membantu mengendalikan produksi glukosa dan memengaruhi metabolisme serta penyimpanan zat gizi (1,2).
Dengan demikian, fungsi insulin jauh lebih luas daripada sekadar “memasukkan gula ke dalam sel”. Insulin merupakan salah satu pengatur utama bagaimana tubuh menggunakan, menyimpan, dan mendistribusikan energi. Masalah mulai muncul ketika jaringan tubuh tidak lagi memberikan respons terhadap insulin seperti sebelumnya. Kondisi tersebut kita kenal sebagai resistensi insulin.
Ketika Tubuh Memerlukan Insulin Lebih Banyak
Bayangkan suatu kondisi ketika sejumlah insulin yang sebelumnya mampu menghasilkan respons metabolik tertentu kini tidak lagi menghasilkan respons yang sama. Secara sederhana:
sensitivitas terhadap insulin menurun
↓
respons jaringan terhadap insulin berkurang
↓
pankreas meningkatkan sekresi insulin
↓
kadar insulin dapat meningkat
↓
glukosa darah untuk sementara tetap dapat dipertahankan
Pada sebagian individu dengan resistensi insulin, sel beta pankreas dapat meningkatkan sekresi insulin sebagai mekanisme kompensasi sehingga kadar insulin sirkulasi meningkat. Keadaan ini sering disebut hiperinsulinemia kompensatori (1,3). Karena mekanisme kompensasi tersebut, seseorang secara teoritis dapat mempunyai kadar glukosa puasa yang masih normal meskipun sensitivitas insulinnya telah menurun.
Artinya, angka glukosa darah sebenarnya merupakan hasil dari keseimbangan berbagai proses: berapa banyak glukosa yang masuk dan diproduksi tubuh, bagaimana jaringan merespons insulin, dan seberapa besar kemampuan sel beta pankreas meningkatkan sekresi insulin untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pada sebagian individu, pankreas dapat mempertahankan kompensasi ini cukup lama. Namun, pada individu lain, fungsi sel beta secara bertahap tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan insulin yang meningkat. Ketika kompensasi tersebut tidak lagi memadai, kadar glukosa mulai meningkat. Dalam perjalanan penyakit tertentu, keadaan ini dapat berkembang menjadi prediabetes dan kemudian diabetes tipe 2 (3,4).
American Diabetes Association (ADA) Standards of Care 2026 menggambarkan diabetes tipe 2 sebagai kondisi yang ditandai oleh hilangnya kemampuan sekresi insulin sel beta yang memadai secara progresif dan nonautoimun, yang sering terjadi dengan latar belakang resistensi insulin (4).
Karena itu, pada diabetes tipe 2 masalahnya bukan sekadar “tubuh kekurangan insulin”. Pada fase tertentu, insulin yang beredar bahkan dapat relatif tinggi, tetapi respons metabolik terhadap insulin tersebut tidak mencukupi untuk mempertahankan homeostasis glukosa.
Jadi, Hiperinsulinemia Datang Sebelum Diabetes?
Dapat terjadi, tetapi tidak selalu mengikuti urutan yang sama pada setiap orang. Ini merupakan bagian penting yang sering hilang dalam pembahasan hiperinsulinemia di media sosial. Resistensi insulin dan hiperinsulinemia kompensatorik memang dapat muncul sebelum seseorang memenuhi kriteria diagnosis diabetes. Namun, tidak tepat jika kita menggambarkan perjalanan diabetes tipe 2 sebagai urutan yang selalu sama: hiperinsulinemia → resistensi insulin → prediabetes → diabetes.
Hubungan antara resistensi insulin dan hiperinsulinemia jauh lebih kompleks. Literatur ilmiah bahkan masih membahas hubungan sebab-akibat dua arah antara keduanya dalam berbagai keadaan metabolik (2). Perjalanan menuju diabetes tipe 2 dipengaruhi oleh interaksi banyak faktor, termasuk predisposisi genetik, adipositas, distribusi lemak tubuh, aktivitas fisik, pola makan, akumulasi lemak ektopik, serta kapasitas sel beta pankreas untuk mempertahankan sekresi insulin (1,3).
Dua orang dengan tingkat resistensi insulin yang mirip belum tentu mengalami perjalanan metabolik yang sama karena kemampuan sel beta mereka dalam melakukan kompensasi dapat berbeda. Inilah alasan mengapa kalimat “hiperinsulinemia adalah tahap pertama diabetes” terlalu menyederhanakan masalah. Lebih tepat mengatakan bahwa pada sebagian individu, resistensi insulin dan peningkatan insulin kompensatorik dapat terjadi jauh sebelum diabetes tipe 2 terdiagnosis.
Mengapa Kita Tidak Memeriksa Insulin pada Semua Orang?
Sampai di sini mungkin muncul pertanyaan logis. Jika insulin dapat meningkat ketika glukosa masih normal, mengapa pemeriksaan insulin puasa tidak dimasukkan saja ke dalam medical check-up rutin? Di sinilah terdapat perbedaan penting antara sesuatu yang menarik secara fisiologis dan sesuatu yang telah terbukti bermanfaat sebagai pemeriksaan klinis rutin. Pengukuran insulin memiliki beberapa keterbatasan.
· Pertama, pemeriksaan insulin belum memiliki standardisasi yang sebaik pemeriksaan glukosa. Hasil pengukuran dapat berbeda antar-metode dan laboratorium karena karakteristik assay yang digunakan (5).
· Kedua, tidak terdapat satu batas universal kadar insulin puasa yang dapat digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang pasti mengalami resistensi insulin.
· Ketiga, kadar insulin dipengaruhi oleh banyak faktor dan harus diinterpretasikan dalam konteks metabolik dan klinis seseorang.
Yang lebih penting, mengetahui kadar insulin belum tentu memberikan manfaat klinis tambahan yang cukup besar dibandingkan pemeriksaan faktor risiko yang sudah terstandardisasi pada sebagian besar individu. Pedoman laboratorium yang disusun Sacks dan kolega serta mendapat persetujuan ADA menyatakan bahwa pengukuran insulin atau proinsulin secara rutin tidak direkomendasikan pada kebanyakan orang dengan diabetes maupun individu yang berisiko mengalami diabetes atau penyakit kardiovaskular (5).
Hal di atas merupakan pesan penting karena belakangan pemeriksaan insulin puasa sering dipromosikan seolah-olah merupakan tes yang wajib dilakukan untuk mengetahui “kesehatan metabolik sebenarnya”. Bukan berarti pemeriksaan insulin tidak mempunyai kegunaan sama sekali. Dalam penelitian dan kondisi klinis tertentu dengan indikasi spesifik, pengukuran insulin dapat memberikan informasi yang berguna. Namun, berguna dalam situasi tertentu tidak sama dengan perlu diperiksa secara rutin pada semua orang.
Bagaimana dengan HOMA-IR?
Istilah lain yang semakin sering ditemukan di internet adalah Homeostatic Model Assessment of Insulin Resistance (HOMA-IR). HOMA-IR merupakan indeks yang memperkirakan resistensi insulin berdasarkan hubungan antara kadar glukosa dan insulin dalam keadaan puasa. Dalam bentuk perhitungan yang umum digunakan ketika glukosa dinyatakan dalam mmol/L:
HOMA-IR = insulin puasa (µU/mL) × glukosa puasa (mmol/L) / 22,5
Jika glukosa dinyatakan dalam mg/dL, rumus yang sering digunakan adalah: HOMA-IR = insulin puasa (µU/mL) × glukosa puasa (mg/dL) / 405. HOMA-IR banyak digunakan dalam penelitian epidemiologi dan penelitian populasi untuk memperkirakan resistensi insulin. Namun, penggunaannya sebagai alat diagnosis individual mempunyai keterbatasan (6).
Tidak terdapat satu angka cut-off universal yang berlaku untuk semua orang. Nilai yang dianggap tinggi dapat berbeda menurut populasi, usia, karakteristik metabolik, serta metode pemeriksaan insulin yang digunakan. Karena itu, kurang tepat jika seseorang menghitung HOMA-IR dari hasil laboratoriumnya, menemukan angka tertentu di internet, kemudian menyimpulkan sendiri: “Saya mengalami resistensi insulin.”
HOMA-IR merupakan alat estimasi, bukan pemeriksaan diagnostik universal yang berdiri sendiri. Jadi, Apa yang Lebih Berguna untuk Masyarakat? Jika insulin puasa dan HOMA-IR tidak perlu diperiksa rutin pada semua orang, apakah kita kembali hanya memperhatikan gula darah? Tidak juga.
Pendekatan yang lebih berguna adalah melihat profil risiko metabolik secara keseluruhan. Beberapa informasi yang mempunyai dasar klinis lebih kuat antara lain:
· indeks massa tubuh dan terutama lingkar pinggang,
· tekanan darah,
· glukosa plasma puasa,
· HbA1c,
· profil lipid, termasuk trigliserida dan HDL,
· riwayat keluarga diabetes,
· tingkat aktivitas fisik, dan
· kondisi yang berkaitan dengan risiko metabolik, seperti metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease (MASLD) atau polycystic ovary syndrome (PCOS), jika relevan (4,7).
Untuk skrining dan diagnosis prediabetes maupun diabetes, ADA 2026 menggunakan glukosa plasma puasa (FPG), HbA1c, atau glukosa plasma dua jam setelah OGTT 75 gram sebagai pemeriksaan yang sesuai (4). Sebagai contoh, prediabetes dapat diidentifikasi melalui FPG 100–125 mg/dL, HbA1c 5,7–6,4%, atau glukosa plasma dua jam pada OGTT 140–199 mg/dL (4).
Pilihan pemeriksaan dan frekuensinya tentu perlu disesuaikan dengan usia, faktor risiko, kondisi klinis, serta pertimbangan tenaga kesehatan. Artinya, daripada mengejar satu angka yang dianggap mampu mengungkap “kesehatan metabolik tersembunyi”, jauh lebih bermanfaat melihat gambaran risiko secara menyeluruh.
Normal Bukan Berarti Risiko Nol
Kadar glukosa darah yang normal tentu merupakan kabar baik. Namun, normal bukan berarti risiko metabolik seseorang pasti nol. Pada sebagian individu, tubuh masih mampu mempertahankan glukosa dalam rentang normal dengan meningkatkan sekresi insulin untuk mengompensasi resistensi insulin. Tetapi fenomena ini tidak berarti semua orang perlu memeriksa insulin puasa atau menghitung HOMA-IR.
Pesan yang lebih penting adalah memperhatikan kesehatan metabolik sebelum diabetes muncul.
Perhatikan lingkar pinggang, tekanan darah, glukosa, HbA1c sesuai indikasi, profil lipid, aktivitas fisik, berat badan dan distribusi adipositas, serta faktor risiko lainnya. Jadi, jangan panik hanya karena mendengar istilah “hiperinsulinemia”. Namun, jangan pula menggunakan gula darah yang masih normal sebagai satu-satunya alasan untuk mengabaikan faktor risiko metabolik lainnya. Gula darah adalah bagian penting dari gambaran kesehatan metabolik—tetapi bukan keseluruhan gambarnya.
Kesimpulan
Gula darah yang masih normal merupakan kabar baik, tetapi tidak selalu berarti seluruh proses metabolisme tubuh pasti optimal. Pada sebagian individu dengan resistensi insulin, sel beta pankreas dapat meningkatkan sekresi insulin sebagai mekanisme kompensasi sehingga kadar glukosa masih dapat dipertahankan dalam rentang normal; keadaan ini dapat disertai hiperinsulinemia kompensatorik dan pada sebagian orang dapat terjadi sebelum berkembangnya prediabetes atau diabetes tipe 2. Namun, perjalanan metabolik setiap individu berbeda, dan kondisi tersebut tidak berarti semua orang perlu memeriksa insulin puasa atau HOMA-IR secara rutin.
Penilaian kesehatan metabolik sebaiknya dilakukan secara menyeluruh dengan mempertimbangkan glukosa darah, HbA1c sesuai indikasi, lingkar pinggang, tekanan darah, profil lipid, aktivitas fisik, riwayat keluarga, serta faktor risiko lainnya. Dengan demikian, gula darah normal sebaiknya tidak membuat kita mengabaikan faktor risiko metabolik, tetapi juga tidak menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan tambahan tanpa indikasi klinis yang jelas.
Daftar Pustaka
1. Petersen MC, Shulman GI. Mechanisms of insulin action and insulin resistance. Physiol Rev. 2018;98(4):2133–2223.
2. Czech MP. Insulin action and resistance in obesity and type 2 diabetes. Nat Med. 2017;23(7):804–14.
3. DeFronzo RA. From the triumvirate to the ominous octet: a new paradigm for the treatment of type 2 diabetes mellitus. Diabetes. 2009;58(4):773–95.
4. American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 2. Diagnosis and classification of diabetes: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S27–49.
5. Sacks DB, Arnold M, Bakris GL, Bruns DE, Horvath AR, Lernmark Å, et al. Guidelines and recommendations for laboratory analysis in the diagnosis and management of diabetes mellitus. Clin Chem. 2023;69(8):808–68.
6. Matthews DR, Hosker JP, Rudenski AS, Naylor BA, Treacher DF, Turner RC. Homeostasis model assessment: insulin resistance and beta-cell function from fasting plasma glucose and insulin concentrations in man. Diabetologia. 1985;28(7):412–9.
7. American Diabetes Association Professional Practice Committee for Diabetes. 3. Prevention or delay of diabetes and associated comorbidities: Standards of Care in Diabetes—2026. Diabetes Care. 2026;49(Suppl 1):S50–60.