Edukasi Farmasi & Kesehatan

Insulin Pemberian Seminggu Ada Lebih dari Satu: Apa Beda Icodec dan Efsitora?

By Dr. apt. Priyanto, M.Biomed
Journalist
October 10, 2026 • 5 min read
Insulin Pemberian Seminggu Ada Lebih dari Satu: Apa Beda Icodec dan Efsitora?
Photo by Unsplash

"Insulin seminggu sekali dapat mengurangi frekuensi suntikan dari 365 menjadi sekitar 52 kali setahun. Namun, apakah insulin mingguan lebih efektif dan..."

Insulin Pemberian Seminggu Ada Lebih dari Satu: Apa Beda Icodec dan Efsitora?

      Selama bertahun-tahun, penggunaan insulin basal identik dengan suntikan setiap hari. Insulin basal memang dirancang untuk memberikan kebutuhan insulin dasar yang relatif stabil sepanjang hari, termasuk ketika seseorang tidak sedang makan. Karena itu, memperpanjang kerja insulin hingga cukup diberikan sekali seminggu merupakan tantangan dan keberhasilan farmakologi yang tidak sederhana.

      Kini, insulin basal sekali seminggu bukan lagi sekadar konsep penelitian. Dua nama yang banyak mendapat perhatian adalah insulin icodec dan insulin efsitora alfa. Icodec telah memperoleh persetujuan di sejumlah negara dan kawasan, termasuk Uni Eropa, sedangkan pada September 2026, FDA Amerika Serikat menyetujui efsitora untuk orang dewasa dengan diabetes melitus tipe 2 [1,2].

Keduanya sama-sama dirancang untuk diberikan sekali seminggu. Namun, apakah icodec dan efsitora sebenarnya merupakan insulin yang sama dengan nama berbeda? Jawabannya: tidak.

      Icodec dan efsitora sama-sama berusaha menyelesaikan persoalan yang sama, bagaimana mempertahankan efek insulin basal selama satu minggu, tetapi melakukannya melalui desain molekul dan pendekatan farmakokinetik yang berbeda.

Mengapa Basal Insulin Perlu Dibuat Bertahan Sangat Lama?

      Tubuh membutuhkan insulin bukan hanya ketika kita makan. Di antara waktu makan dan selama tidur, hati tetap memproduksi dan melepaskan glukosa ke dalam sirkulasi. Insulin basal membantu mengendalikan produksi glukosa tersebut sekaligus mempertahankan kebutuhan insulin dasar tubuh.

Berbagai insulin basal kerja panjang telah dikembangkan sehingga dapat diberikan sekali sehari. Namun, bagi pasien yang membutuhkan terapi jangka panjang, satu kali suntikan setiap hari tetap berarti sekitar 365 suntikan basal dalam satu tahun. Secara matematis, insulin sekali seminggu dapat mengurangi frekuensi tersebut menjadi sekitar 52 suntikan basal per tahun.

      Pengurangan frekuensi pemberian berpotensi menyederhanakan regimen dan mengurangi treatment burden pada pasien tertentu. Namun, hal ini tidak boleh langsung diterjemahkan bahwa insulin mingguan pasti meningkatkan kepatuhan atau selalu lebih baik daripada insulin harian. Kepatuhan terhadap terapi dipengaruhi banyak faktor, termasuk edukasi, akses obat, kekhawatiran terhadap hipoglikemia, kemampuan melakukan monitoring, serta persepsi pasien terhadap insulin.

      Pertanyaan farmakologinya justru menarik: bagaimana sebuah protein seperti insulin dapat direkayasa sehingga efeknya bertahan selama satu minggu?

Icodec: Memperpanjang Kerja melalui Modifikasi Molekul dan Ikatan Albumin

      Insulin icodec merupakan analog insulin yang struktur molekulnya dimodifikasi untuk memperpanjang keberadaannya di dalam tubuh. Salah satu kunci desainnya adalah penambahan rantai samping yang mengandung C20 fatty diacid. Modifikasi ini membuat icodec mempunyai kemampuan kuat tetapi reversibel untuk berikatan dengan albumin di dalam sirkulasi. Sebagian besar molekul icodec berada dalam keadaan terikat albumin dan membentuk semacam reservoir sirkulasi, sedangkan fraksi bebasnya tersedia secara perlahan untuk berinteraksi dengan reseptor insulin [3].

      Selain itu, beberapa substitusi asam amino meningkatkan stabilitas molekul dan menurunkan afinitas terhadap reseptor insulin, yang turut memperlambat receptor-mediated clearance. Kombinasi karakteristik tersebut menghasilkan waktu paruh sekitar 196 jam, atau sedikit lebih dari delapan hari [3]. Karakteristik inilah yang memungkinkan efek penurunan glukosa icodec didistribusikan sepanjang interval satu minggu.

      Mekanisme farmakokinetik insulin icodec telah dibahas lebih mendalam dalam artikel “Mengapa Insulin Icodec Dapat Bekerja Selama Satu Minggu? Apa Rahasia Farmakokinetiknya?” Karena itu, bagian ini tidak akan mengulang seluruh aspek farmakokinetik icodec. Yang perlu digarisbawahi adalah bahwa efsitora mencapai tujuan serupa dengan strategi molekuler yang berbeda.

Efsitora: Mencapai Tujuan yang Sama dengan Desain Berbeda

      Insulin efsitora alfa sebelumnya dikenal dalam pengembangannya sebagai basal insulin Fc atau BIF (LY3209590). Berbeda dengan icodec yang mengandalkan modifikasi insulin dan ikatan reversibel dengan albumin, efsitora merupakan fusion protein. Molekul ini menggabungkan varian insulin single-chain dengan bagian Fc dari imunoglobulin G (IgG) [4]. Desain Fc-fusion merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk memperpanjang keberadaan protein terapeutik di dalam sirkulasi.

      Bagian Fc berinteraksi dengan sistem neonatal Fc receptor (FcRn). Melalui mekanisme recycling, protein yang mengandung Fc dapat terhindar dari degradasi lisosomal secara cepat dan dikembalikan ke sirkulasi. Akibatnya, clearance menjadi lambat dan waktu keberadaan molekul di dalam tubuh menjadi jauh lebih panjang.

      Studi farmakokinetik menunjukkan bahwa efsitora memiliki profil paparan yang panjang dan relatif datar. Studi steady-state terbaru pada pasien diabetes tipe 2 melaporkan waktu paruh sekitar 19 hari, dengan variasi peak-to-trough yang rendah sepanjang interval satu minggu [5]. Profil farmakodinamiknya juga menunjukkan efek penurunan glukosa yang relatif stabil sepanjang interval pemberian. Jadi, icodec dan efsitora sama-sama bekerja sebagai insulin basal jangka sangat panjang, tetapi “teknologi” yang digunakan untuk mempertahankan molekulnya di dalam tubuh tidak sama.

Icodec vs Efsitora: Sama-Sama Mingguan, tetapi Tidak Identik

      Perbedaan utama keduanya dapat disederhanakan sebagai berikut:

image.png 148.69 KB
Perbandingan tersebut juga menunjukkan mengapa kita tidak dapat sekadar menyebut keduanya sebagai “insulin mingguan” lalu menganggap karakteristiknya identik.

      Perbedaan waktu paruh juga tidak boleh digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa salah satunya lebih kuat, lebih efektif, atau lebih baik. Waktu paruh menggambarkan aspek farmakokinetik, sedangkan manfaat klinis perlu dinilai melalui outcome seperti HbA1c, time in range, hipoglikemia, keamanan, serta kemudahan penggunaan.

      Terlebih lagi, sebagian besar data icodec dan efsitora berasal dari program uji klinik yang berbeda, bukan uji head-to-head langsung antara kedua obat. Karena itu, membandingkan angka dari ONWARDS dengan QWINT secara langsung harus dilakukan dengan hati-hati.

Apakah Efektivitas Keduanya Sama dengan Insulin Harian?

      Program uji klinik fase 3 ONWARDS mengevaluasi icodec terhadap berbagai insulin basal harian. Salah satu studi terbesar, ONWARDS 1, membandingkan icodec sekali seminggu dengan insulin glargine U100 sekali sehari pada pasien diabetes tipe 2 yang sebelumnya belum menggunakan insulin. Setelah 52 minggu, icodec memenuhi kriteria non-inferiority dalam penurunan HbA1c dan dalam studi tersebut bahkan menghasilkan penurunan HbA1c serta time in range yang secara statistik lebih baik dibandingkan glargine U100 [6].

      Efsitora dievaluasi melalui program QWINT. Dalam QWINT-2, misalnya, efsitora sekali seminggu dibandingkan dengan insulin degludec sekali sehari pada pasien diabetes tipe 2 yang sebelumnya belum menggunakan insulin. Setelah 52 minggu, efsitora juga memenuhi kriteria non-inferiority terhadap degludec dalam menurunkan HbA1c [7].

      Gambaran yang lebih luas diperoleh dari meta-analisis tahun 2026 yang mencakup 14 randomized controlled trials dengan total 8.487 peserta diabetes tipe 2. Secara keseluruhan, insulin basal mingguan menghasilkan kontrol glikemik yang sebanding dengan insulin basal harian. Penurunan HbA1c pada kelompok mingguan rata-rata sedikit lebih besar, sekitar 0,09 poin persentase, tetapi perbedaan absolut tersebut relatif kecil [8].

      Dengan demikian, pesan yang lebih tepat bukan bahwa insulin mingguan “lebih ampuh”, melainkan bahwa teknologi baru tersebut memungkinkan kontrol glikemik yang setidaknya sebanding dengan insulin basal harian dengan frekuensi pemberian yang jauh lebih jarang.

Bagaimana dengan Risiko Hipoglikemia?

      Pertanyaan yang wajar muncul adalah: jika satu dosis insulin dirancang bekerja selama seminggu, apa yang terjadi apabila dosis tersebut terlalu besar? Kekhawatiran ini penting karena hipoglikemia tetap merupakan salah satu risiko utama terapi insulin.

      Namun, risiko hipoglikemia tidak dapat ditentukan hanya dari apakah insulin diberikan setiap hari atau setiap minggu. Risiko dipengaruhi oleh jenis insulin, dosis, algoritma titrasi, karakteristik pasien, pola makan, aktivitas fisik, fungsi ginjal, penggunaan obat penurun glukosa lain, dan terutama apakah pasien mempunyai diabetes tipe 1 atau tipe 2.

      Meta-analisis 2026 pada pasien diabetes tipe 2 tidak menemukan perbedaan bermakna dalam kejadian hipoglikemia level 2 atau 3 antara insulin basal mingguan dan harian secara keseluruhan [8]. Tetapi temuan tersebut tidak boleh digeneralisasikan ke semua pasien dan semua insulin mingguan. FDA, misalnya, tidak merekomendasikan efsitora untuk pasien diabetes tipe 1 karena peningkatan risiko hipoglikemia berat [1]. Pada icodec, perhatian terhadap peningkatan hipoglikemia pada diabetes tipe 1 juga telah muncul dalam program kliniknya [2].

      Artinya, sekali seminggu bukan sinonim dari risiko hipoglikemia lebih rendah. Perbandingan risiko hipoglikemia antara insulin harian dan mingguan akan lebih tepat dibahas secara khusus dalam artikel berikutnya.

Insulin Mingguan Bukan Sekadar Membuat Insulin “Bekerja Lebih Lama”

      Kehadiran icodec dan efsitora menunjukkan bagaimana rekayasa molekul dapat mengubah farmakokinetik obat secara sangat bermakna. Pada icodec, salah satu strategi utamanya adalah membuat insulin berikatan kuat tetapi reversibel dengan albumin sehingga tersedia secara perlahan, disertai modifikasi lain yang memperlambat clearance. Pada efsitora, insulin dirancang sebagai Fc-fusion protein dengan mekanisme yang antara lain memanfaatkan FcRn-mediated recycling untuk memperpanjang keberadaannya di dalam tubuh.

      Hasil akhirnya sama: basal insulin yang dapat diberikan sekali seminggu. Namun, jalur farmakologinya berbeda. Perbedaan tersebut penting karena mengingatkan kita bahwa frekuensi pemberian hanyalah satu karakteristik obat. Dua obat yang sama-sama diberikan sekali seminggu belum tentu memiliki struktur, farmakokinetik, farmakodinamik, profil keamanan, maupun bukti klinis yang identik.

Kesimpulan

      Insulin icodec dan efsitora menunjukkan bahwa tujuan farmakologi yang sama—menghasilkan insulin basal yang cukup diberikan sekali seminggu—dapat dicapai melalui desain molekul yang berbeda. Icodec terutama memperpanjang kerjanya melalui ikatan reversibel dengan albumin dan clearance yang diperlambat, sedangkan efsitora menggunakan desain Fc-fusion dengan profil farmakokinetik yang sangat panjang. Uji klinik menunjukkan bahwa keduanya mampu memberikan kontrol glikemik yang sebanding dengan insulin basal harian pada banyak pasien diabetes tipe 2. Namun, insulin mingguan tidak otomatis lebih efektif, lebih aman, atau lebih cocok bagi semua pasien. Pilihan terapi tetap perlu mempertimbangkan bukti klinis, risiko hipoglikemia, karakteristik pasien, serta status persetujuan dan ketersediaan masing-masing obat.

Baca juga artikel: 

1.       Insulin Harian vs Insulin Seminggu Sekali: Apa Bedanya dari Cara Kerja hingga Risiko Hipoglikemia?

2.     Mulai Insulin Berarti Diabetes Sudah Parah? Meluruskan Mitos tentang Terapi Insulin

Daftar Pustaka

1.     US Food and Drug Administration. FDA approves once-weekly insulin for type 2 diabetes mellitus [Internet]. Silver Spring (MD): FDA; 2026 Sep 23.

2.     European Medicines Agency. Awiqli (insulin icodec): EPAR - medicine overview [Internet]. Amsterdam: EMA; 2024.

3.     Nishimura E, Pridal L, Glendorf T, Hansen BF, Hubálek F, Kjeldsen T, et al. Molecular and pharmacological characterization of insulin icodec: a new basal insulin analog designed for once-weekly dosing. BMJ Open Diabetes Res Care. 2021;9(1):e002301. doi:10.1136/bmjdrc-2021-002301.

4.     Moyers JS, Hansen RJ, Day JW, Dickinson CD, Zhang L, Rady B, et al. Preclinical characterization of LY3209590, a novel weekly basal insulin Fc-fusion protein. J Pharmacol Exp Ther. 2022;382(3):346–355.

5.     Leohr J, Klein O, Heise T, Zijlstra E, Bue-Valleskey JM, Suriyapperuma S, et al. Characterisation of steady-state pharmacokinetics and glucodynamics of once-weekly insulin efsitora alfa in individuals with type 2 diabetes. Diabetes Obes Metab. 2026;28(5):4010–4018. doi:10.1111/dom.70585.

6.     Rosenstock J, Bain SC, Gowda A, Jódar E, Liang B, Lingvay I, et al. Weekly icodec versus daily glargine U100 in type 2 diabetes without previous insulin. N Engl J Med. 2023;389:297–308. doi:10.1056/NEJMoa2303208.

7.     Wysham C, Bajaj HS, Del Prato S, Franco DR, Kiyosue A, Dahl D, et al. Insulin efsitora versus degludec in type 2 diabetes without previous insulin treatment. N Engl J Med. 2024;391:2201–2211. doi:10.1056/NEJMoa2403953.

8.     Efficacy and safety of once-weekly basal insulin analogs versus daily basal insulin analogs in adults with type 2 diabetes: a systematic review and meta-analysis. Curr Diab Rep. 2026;26(1):16. doi:10.1007/s11892-026-01628-3.